RADAR SURABAYA BISNIS - Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Juda Agung mengungkapkan, pemerintah menargetkan ekonomi pada kuartal I/2026 bisa tumbuh ke level 5,6 persen secara tahunan atau year on year (yoy), dari target titik acuan atau baseline pada tiga bulan pertama tahun ini di level 5,5 persen.
"Kuartal I baseline kita di bidang keuangan itu 5,5 persen. Kita akan dorong ke 5,6 persen," kata Juda dalam acara CNBC Indonesia Economic Outlook 2026 di Hotel Kempinski, Jakarta, Selasa (10/2/2026).
Untuk mengejar target pertumbuhan yang makin jauh lebih tinggi dari realisasi kuartal IV/2025 sebesar 5,39 persen yoy, Juda memastikan pemerintah akan mempercepat belanja negara di awal tahun.
Belanja ini penting untuk mendongkrak pertumbuhan awal tahun karena pada kuartal I/2025 hanya tumbuh 4,87 persen, lebih lambat dari kuartal I/2024 yang pertumbuhannya hanya 5,11 persen.
Perlambatan dipicu oleh belanja pemerintah awal tahun yang biasanya memang cenderung lambat.
"Dengan beberapa pengeluaran yang memang bisa dilakukan di kuartal I ini. Ya, ada beberapa pengeluaran yang biasanya lambat, ya kita dorong cepat gitu," tegasnya.
Salah satu pengeluaran yang akan dipercepat kata Juda Agung ialah belanja bantuan sosial alias bansos untuk mendukung konsumsi masyarakat.
"Itu tetap dilakukan. Semua, kan ada beberapa program perlinsos ya, yang bisa kita lakukan di kuartal I, ya kita lakukan segera," ungkapnya.
Juda Agung mengaku belum puas dengan kinerja pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2025 yang sebesar 5,39 persen.
Namun dia tetap mensyukuri hasil yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) tersebut.
"Ya kalau pertanyaan puas atau tidak, tentu saja bisa puas atau juga belum puas tapi kita perlu syukuri," ujar Juda.
Juda menjelaskan dirinya belum puas karena pertumbuhan ekonomi saat ini masih berada di bawah level potensialnya.
"Pertumbuhan 5,39 persen pada kuartal IV/2025 itu masih di bawah potensinya. Jadi artinya kalau di bawah potensinya masih bisa didorong," tegas Juda.
Kendati demikian, jika melihat dari sisi positif, dia mengungkapkan Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 5,39 persen itu merupakan pertumbuhan yang tertinggi sejak 2022, ketika terjadi rebound atau pembalikan dari momentum Covid-19.
"Setelah Covid-19 itu pertumbuhannya agak lemah di kisaran 5 persen. Sekarang ini 5,39 persen saya kira itu sebuah achievement (pencapaian) yang patut kita syukuri," tutur dia.
Tak hanya itu, pertumbuhan ekonomi Indonesia juga berada di peringkat atas jika dibandingkan dengan negara-negara lain di kawasan.
Diketahui, PDB Indonesia berada di peringkat keempat, setelah Vietnam yang tumbuh di atas 8 persen, dan Malaysia serta Singapura yang masing-masing tumbuh 5,7 persen.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia lebih tinggi dari Arab Saudi dan China yang masing-masing di level 4,9 persen dan 4,5 persen.
Ke depan, Juda berharap pertumbuhan ekonomi Indonesia turut memberi kesejahteraan kepada masyarakat.
Hal ini bisa ditunjukkan dari tingkat keyakinan konsumen, ketersediaan lapangan kerja, dan berkurangnya jumlah masyarakat miskin. (uta/opi)
Editor : Nofilawati Anisa