RADAR SURABAYA BISNIS – Pemerintah Indonesia melalui Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menegaskan komitmennya untuk memperkuat posisi ekonomi nasional di kancah global.
Strategi utamanya adalah dengan menggenjot volume ekspor dan memperluas adopsi sistem pembayaran digital Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) ke negara-negara anggota Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC).
Airlangga mengungkapkan bahwa saat ini sekitar 70 persen total ekspor Indonesia ditujukan ke 21 negara anggota APEC.
Hal ini menjadikan pasar APEC sangat strategis bagi pertumbuhan ekonomi nasional.
"Indonesia perlu mendukung agar APEC berjalan baik karena ini adalah salah satu ekonomi terbesar. Kita butuh pertumbuhan ekonomi yang kuat, dan melalui negara-negara APEC ini kita bisa tingkatkan ekspor kita," ujar Airlangga dalam konferensi pers di Jakarta (7/2).
Fokus Produk Unggulan dan Padat Karya
Komoditas yang menjadi andalan ekspor Indonesia meliputi sektor logam, kelapa sawit, dan produk-produk hasil industri padat karya.
Sektor tekstil, furnitur, pakaian, hingga alas kaki tetap menjadi prioritas untuk menembus pasar internasional.
Selain itu, produk agrikultur seperti udang juga menunjukkan tren positif pada sektor unggulan padat karya dengan banyaknya peminat.
Ekspansi QRIS: Menuju Digitalisasi Global
Tak hanya soal barang, pemerintah juga serius mendorong digitalisasi pembayaran.
Setelah sukses diterapkan di kawasan ASEAN (Thailand, Malaysia, Singapura, Filipina, Vietnam, Laos, dan Brunei) serta mulai merambah Korea Selatan dan Jepang, QRIS kini dibidik untuk menjangkau lebih banyak anggota APEC.
"Sebetulnya digitalisasi payment untuk Indonesia itu sudah masuk Korea, Jepang, dan Timur Tengah. Dengan negara APEC yang lain tentu kita akan dorong," tambah Airlangga.
Langkah ini diharapkan dapat mempermudah transaksi lintas negara, mendukung UMKM go global, serta memperkuat ekosistem ekonomi digital Indonesia di mata dunia.
Editor : Hany AkasahSumber : radar surabaya bisnis