Industri & Perdagangan Infrastruktur Otomotif Perbankan & Keuangan Person of The Year Properti Transportasi & Logistik Wisata & Kuliner

Investasi vs Dana Darurat, Mana yang Harus Didahulukan Agar Keuangan Tetap Aman?

Hany Akasah • Senin, 2 Februari 2026 | 12:50 WIB
ILUSTRASI: Investasi dan dana darurat
ILUSTRASI: Investasi dan dana darurat

RADAR SURABAYA BISNIS – Di tengah dinamika ekonomi global yang sulit diprediksi, kesadaran masyarakat akan literasi keuangan semakin meningkat. 

Namun, sebuah dilema klasik tetap membayangi, apakah harus fokus mengumpulkan dana darurat terlebih dahulu, atau langsung terjun ke dunia investasi?

Menjawab tantangan tersebut, CEO QM Financial, Ligwina Hananto, menyarankan strategi paralel. Menurutnya, masyarakat bisa menabung dana darurat sekaligus berinvestasi di waktu yang sama dengan pembagian porsi yang tepat.

Salah satu tips unik yang dibagikan Ligwina adalah mengukur nominal investasi berdasarkan gaya hidup, salah satunya dari harga sepatu yang dikenakan. 

Ia menyarankan untuk menyisihkan setidaknya setengah dari harga sepatu untuk investasi.

"Kalau sepatu Rp 200 ribu, invest Rp 100 ribu. Kalau sepatunya Rp 1 juta, invest Rp 500 ribu. Jadi masing-masing orang beda," ujar Ligwina.

Filosofinya sederhana, jika kita mampu membeli barang konsumtif, kita seharusnya mampu menyisihkan sebagian kecil nilainya untuk masa depan. 

Karena nominalnya relatif kecil dan ditujukan untuk jangka panjang, investor tidak perlu cemas saat pasar modal sedang berfluktuasi.

Meski investasi berjalan, Ligwina menekankan bahwa porsi untuk dana darurat harus tetap lebih besar. Hal ini dilakukan agar uang simpanan terbagi antara dana darurat yang berisiko rendah dan investasi yang lebih berisiko.

Berikut adalah perbedaan penempatan dana berdasarkan saran ahli. Dana darurat (risiko rendah) yang disimpan di tabungan, deposito, reksa dana pasar uang, atau emas.

Investasi (risiko lebih tinggi)dapat disimpan pada produk seperti reksa dana saham untuk tujuan jangka panjang, misalnya dana pensiun bagi mereka yang di bawah 30 tahun.

Kunci utama dari keberhasilan strategi ini bukanlah besarnya angka, melainkan konsistensi. Ligwina menyarankan agar proses ini dibuat otomatis setiap bulan agar menjadi kebiasaan.

Sebagai contoh, dari gaji Rp3 juta, seseorang bisa langsung memotong Rp300 ribu; dengan pembagian Rp200 ribu untuk dana darurat di tabungan dan Rp100 ribu untuk reksa dana. 

Dengan cara ini, keuangan akan terkondisikan secara rutin tanpa terasa membebani hidup sehari-hari.

Investasi bukan tentang cara cepat kaya, melainkan tentang ketahanan (resilience) dan konsistensi. Menggabungkan dana darurat dengan investasi yang cerdas bukan hanya soal angka di atas kertas, tapi tentang ketenangan pikiran (peace of mind).

Editor : Hany Akasah
#financial planning #dana darurat #Keamanan Finansial #aset #investasi #keuangan