RADAR SURABAYA BISNIS – Rencana ekspansi investasi Danantara ke Amerika Serikat (AS) senilai Rp130 triliun tengah menjadi perbincangan publik, di tengah dorongan agar dana negara lebih banyak difokuskan untuk pembangunan dalam negeri. Menanggapi hal tersebut, Menteri Investasi/Kepala BKPM sekaligus CEO Danantara, Rosan Roeslani, menegaskan bahwa prioritas utama investasi tetap berada di Indonesia.
Pernyataan itu disampaikan Rosan merespons kabar investasi Danantara di AS yang mencuat dalam dinamika negosiasi Presiden Prabowo Subianto dengan Presiden AS Donald Trump.
“Kami evaluasi semua investasi. Fokus kami tetap di Indonesia. Skemanya 80 persen investasi di dalam negeri dan 20 persen di luar negeri,” ujar Rosan beberapa waktu lalu.
Ia menegaskan, peluang investasi luar negeri, termasuk di AS, tetap dikaji secara selektif dan strategis. Menurutnya, ekspansi global hanya akan dilakukan jika memberikan nilai tambah nyata bagi Indonesia.
Baca Juga: Mau Mulai Usaha? Menaker Ubah BLK Jadi Inkubator Bisnis, Dibantu Cari Ide Hingga Pemasaran
“Yang penting bagi kami adalah investasi itu harus membawa transfer teknologi, menciptakan lapangan kerja, dan memberikan imbal hasil sesuai benchmark di atas biaya modal kami,” jelasnya.
Rosan memastikan setiap keputusan investasi Danantara berorientasi pada kepentingan jangka panjang serta mendukung agenda pembangunan ekonomi nasional, bukan semata-mata ekspansi finansial.
Di sisi lain, Danantara bersama Kementerian Luar Negeri RI (Kemenlu) juga memperkuat kemitraan strategis guna mendorong masuknya investasi global ke Indonesia. Kolaborasi ini menjadi bagian dari penguatan diplomasi ekonomi untuk membuka akses terhadap modal, teknologi, dan jejaring internasional.
Chief Investment Officer (CIO) Danantara Indonesia, Pandu Sjahrir, mengatakan langkah tersebut sejalan dengan visi besar menuju Indonesia Emas 2045 yang menekankan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan dan inklusif.
“Diplomasi ekonomi menjadi instrumen strategis untuk merespons dinamika global secara proaktif. Danantara hadir sebagai mitra kebijakan yang menjembatani potensi ekonomi Indonesia dengan arus investasi internasional yang konkret dan berdampak jangka panjang,” ujar Pandu.
Ia menjelaskan, Danantara dibentuk sebagai lembaga pengelola aset negara modern yang mengonsolidasikan aset strategis secara efisien, dengan fokus pada sektor-sektor berdampak besar seperti energi terbarukan, infrastruktur, pangan, layanan kesehatan, ekonomi digital, dan jasa keuangan.
“Kami tidak hanya mengelola aset, tetapi menginvestasikannya kembali untuk menciptakan pertumbuhan yang inklusif, membuka lapangan kerja, serta memperkuat daya saing Indonesia di kancah global,” pungkas Pandu.
Editor : Hany Akasah