RADAR SURABAYA BISNIS – Di tengah hiruk-pikuk digitalisasi yang kian masif pada tahun 2026, sebuah paradoks muncul: masyarakat justru mulai mengerem laju hidup mereka.
Fenomena yang dikenal sebagai slow living kini bukan sekadar gaya hidup estetis di media sosial, melainkan telah bertransformasi menjadi ceruk bisnis baru yang sangat menjanjikan.
Laporan ekonomi kreatif terbaru menunjukkan adanya pergeseran signifikan dalam perilaku konsumen yang lebih mengutamakan kualitas, keberlanjutan, dan kesehatan mental dibandingkan konsumsi massal yang serba cepat.
Baca Juga: Menhub Matangkan Reaktivasi Rel Mati, Eksekusi Nunggu Anggaran Pemerintah
Sektor Utama yang Meraup Keuntungan
Tren ini menciptakan efek domino pada berbagai sektor industri. Beberapa bidang diprediksi akan mengalami pertumbuhan pesat, seperti industri slow fashion, wisata wellness & agrotourism, produk rumah tangga artisan, dan ekonomi berbasis langganan.
Konsumen mulai meninggalkan fast fashion dan beralih ke pakaian berkualitas tinggi yang tahan lama dengan proses produksi yang etis.
Ada juga hotel dan destinasi wisata yang menawarkan pengalaman "lepas penat" (unplugged) dari teknologi kini lebih diminati daripada destinasi belanja konvensional.
Baca Juga: Danantara Siap Ambil Alih 28 Perusahaan yang Dicabut Izinnya
Barang pecah belah buatan tangan (handmade), furnitur dari kayu berkelanjutan, hingga produk aromaterapi mengalami kenaikan permintaan sebesar 25% di kuartal pertama tahun ini.
Serta ekonomi berbasis langganan (curated subscription) sebagai layanan bahan makanan organik langsung dari petani (farm-to-table) menjadi primadona baru di kota-kota besar.
Meski menggiurkan, pelaku usaha diingatkan untuk tidak terjebak dalam praktik greenwashing atau klaim palsu demi keuntungan semata. Pelaku bisnis harus mampu membuktikan klaim keberlanjutan mereka melalui sertifikasi atau transparansi rantai pasok yang dapat diakses publik.
Editor : Hany Akasah