Industri & Perdagangan Infrastruktur Otomotif Perbankan & Keuangan Person of The Year Properti Transportasi & Logistik Wisata & Kuliner

Purbaya Pede Rupiah Bakal Berbalik Menguat Dalam Dua Pekan

Nofilawati Anisa • Rabu, 14 Januari 2026 | 16:49 WIB
Purbaya Yudhi Sadewa
Purbaya Yudhi Sadewa

RADAR SURABAYA BISNIS - Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan keyakinannya jika nilai tukar rupiah bakal berbalik menguat terhadap dolar Amerika Serikat (USD) dalam dua pekan.

“Tidak usah panik, rupiah akan segera menguat dalam dua minggu ke depan,” kata Purbaya kepada wartawan di Jakarta, Rabu (14/1/2026).

Hingga sejauh ini, ia mengatakan masih menunggu masukan dari Bank Indonesia (BI) sebagai otoritas moneter yang bertanggung jawab menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Tetapi, secara paralel, Purbaya juga mengatakan terus memperbaiki kinerja perekonomian nasional untuk mencetak pertumbuhan yang lebih tinggi.

Purbaya optimistis tahun 2026 perekonomian Indonesia dapat mencapai angka pertumbuhan enam persen.

“Fondasi ekonomi akan terus membaik ke depan. Nggak ada alasan orang takut untuk mengkonversi ke rupiah. Asing juga sudah masuk, Anda lihat pasar modal kita. Kalau dikendalikan dengan benar, tidak terlalu sulit untuk mengembalikan rupiah,” ujar mantan Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).

Nilai tukar rupiah pada pembukaan perdagangan di Jakarta, Rabu, bergerak menguat 7 poin atau 0,04 persen menjadi Rp 16.870 per USD dari sebelumnya Rp 16.877 per USD.

Terpisah, BI menyampaikan tekanan di pasar keuangan dunia pada awal 2026 banyak mempengaruhi pergerakan mata uang global, termasuk rupiah yang terus melemah.

“Tekanan tersebut bersumber dari eskalasi tensi geopolitik, kekhawatiran terhadap independensi bank sentral di sejumlah negara maju, serta ketidakpastian arah kebijakan moneter The Fed ke depan, di tengah kebutuhan valuta asing domestik yang meningkat pada awal tahun,” kata Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin G Hutapea dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (14/1/2026).

Lebih lanjut Erwin menjelaskan, kondisi itu mendorong rupiah melemah dan ditutup pada level Rp 16.860 per USD pada 13 Januari 2026, atau terdepresiasi sebesar 1,04 persen secara year-to-date (ytd).

“Meskipun demikian, pelemahan rupiah tersebut masih sejalan dengan pergerakan nilai tukar regional yang juga terdampak sentimen global, antara lain won Korea yang melemah sebesar 2,46 persen dan peso Filipina sebesar 1,04 persen,” katanya.

Erwin mengatakan BI konsisten menjaga stabilitas nilai tukar sehingga dapat menjaga stabilitas dan mendukung pertumbuhan ekonomi.

Menurut dia, stabilitas nilai tukar rupiah tetap terjaga berkat konsistensi kebijakan stabilisasi yang terus dilakukan oleh bank sentral secara berkesinambungan.

Upaya stabilisasi dilakukan melalui intervensi NDF di pasar off-shore di kawasan Asia, Eropa, dan Amerika, serta intervensi di pasar domestik melalui transaksi spot, DNDF, dan pembelian SBN di pasar sekunder.

Selain itu, berlanjutnya aliran masuk modal asing, terutama ke instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan pasar saham yang secara neto mencapai Rp 11,11 triliun pada Januari 2026, juga mendukung terkendalinya stabilitas rupiah.

Hal itu sejalan dengan persepsi investor global terhadap Indonesia yang tetap positif, tercermin dari premi risiko CDS Indonesia tenor lima tahun yang berada pada level rendah, sekitar 72 bps.

Di sisi lain, ketahanan eksternal juga tetap baik, tercermin pada posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Desember 2025 yang tercatat sebesar USD 156,5 miliar, setara dengan 6,4 bulan impor, memadai sebagai buffer dalam menghadapi tekanan pasar keuangan global.

“Bank Indonesia akan terus berada di pasar untuk memastikan nilai tukar rupiah bergerak sesuai dengan nilai fundamental dan mekanisme pasar yang sehat,” ujar Erwin.

BI juga akan terus mengoptimalkan instrumen operasi moneter pro-market guna memperkuat efektivitas transmisi kebijakan moneter dan menjaga kecukupan likuiditas, sehingga dapat mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dengan tetap mencapai sasaran inflasi serta menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. (ara/opi)

 

Editor : Nofilawati Anisa
#perdagangan #rupiah #kebijakan #moneter #menteri keuangan #bank indonesia #Purbaya Yudhi Sadewa #dolar amerika serikat #menguat