RADAR SURABAYA BISNIS – Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Jawa Timur, Ibrahim, memaparkan perkembangan ekonomi global yang saat ini masih dibayangi ketidakpastian akibat berbagai dinamika internasional.
Mulai dari tensi geopolitik Rusia, pemilihan Presiden Amerika Serikat, hingga kebijakan retaliasi tarif impor yang terus berubah.
Menurutnya, salah satu perubahan signifikan terlihat pada tarif dagang Amerika Serikat terhadap Indonesia.
"Perkembangan terkini tarif di Amerika terhadap Indonesia sudah menurun dari 32 persen menjadi 19 persen. Ini berkat negosiasi pemerintah. Namun, ketidakpastian ekonomi AS masih tinggi," jelasnya dalam High Level Meeting (HLM), Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID), Tim Percepatan dan Perluasan Digitalisasi Daerah (TP2DD), Tim Percepatan Pertumbuhan Ekonomi Daerah (TP2ED) Provinsi Jawa Timur Tahun 2025, Selasa (25/11).
Ibrahim menjelaskan, menguatnya harga emas belakangan ini merupakan sinyal bahwa investor global masih mencari instrumen aman (safe haven).
Kondisi ini muncul karena investor belum sepenuhnya percaya menempatkan modal dalam surat berharga Amerika Serikat.
"Hal ini juga berdampak pada tekanan nilai tukar di banyak negara, termasuk Indonesia," kata Ibrahim.
Ia menekankan pentingnya mengantisipasi rambatan risiko global tersebut agar tidak memberi dampak signifikan terhadap ekonomi nasional maupun Jawa Timur..
Berdasarkan data yang dipaparkan, ekonomi dunia juga belum kembali ke fase pra-pandemi.
Pertumbuhan global yang dulu berada di kisaran 6,3 persen kini melambat dan diproyeksikan stagnan di sekitar 3,1 persen.
Sementara itu, suku bunga The Fed yang masih tinggi membuat arus modal global tetap bergerak hati-hati dan memberi tekanan pada nilai tukar berbagai negara.
Meski demikian, Ibrahim menilai Indonesia masih mampu menjaga momentum pertumbuhan.
“Di tengah kondisi slower for longer, Indonesia tetap mampu tumbuh di atas 5 persen. Ini batas psikologis yang selalu diperhatikan investor global,” tegasnya.
Tingkat inflasi nasional juga masih terkendali pada rentang sasaran 2,5 ± 1 persen. Jawa Timur Berperan Besar pada Ekonomi Nasional.
Ibrahim menegaskan besarnya kontribusi ekonomi Jawa Timur terhadap perekonomian nasional.
“Porsinya mencapai 14,54 persen. Bahkan untuk skala Pulau Jawa, ekonomi Jatim lebih dari seperempat,” jelasnya.
Karena itu, Jawa Timur sering menjadi lokasi pilot project berbagai program kementerian, didukung infrastruktur dan ekosistem pendukung yang relatif lengkap.
Di sisi permintaan, konsumsi rumah tangga masih mendominasi dengan kontribusi 60,78 persen.
Namun, ia mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan dengan investasi.
“Target ideal pangsa investasi adalah di atas 30 persen untuk memastikan pertumbuhan jangka panjang yang inklusif dan berkelanjutan,” ujarnya.
Sementara dari sisi penawaran, industri pengolahan masih menjadi kontributor terbesar dengan pangsa mencapai 31,24 persen, disusul perdagangan, pertanian, dan konstruksi.
Lima lapangan usaha terbesar menyumbang sekitar 75 persen ekonomi Jatim.
Saat ini inflasi Jawa Timur tercatat 2,69 persen (yoy), lebih rendah dari nasional yang berada di level 2,86 persen.
Namun, Ibrahim mengingatkan bahwa November–Desember merupakan periode yang perlu diwaspadai karena permintaan pangan meningkat.
Hasil pemantauan enam tahun terakhir menunjukkan telur ayam ras, minyak goreng, dan beras menjadi komoditas yang paling sering memicu inflasi akhir tahun.
“Jika dilihat tren historis, inflasi dua bulan terakhir biasanya berada pada kisaran 0,5 sampai 0,9 persen. Bila pola ini sama, maka inflasi Jawa Timur untuk 2025 masih akan berada di level aman sekitar 2,68 persen,” jelasnya.
Meski demikian, ia menegaskan perlunya memastikan kecukupan pasokan pangan untuk menjaga stabilitas harga di seluruh wilayah Jawa Timur.
Usai kegiatan, Ibrahim menegaskan komitmennya dalam memperkuat sinergi pengendalian inflasi, percepatan digitalisasi, dan pertumbuhan ekonomi daerah melalui HLM yang menggabungkan tiga forum besar sekaligus.
“Kita telah menyelenggarakan tiga forum besar yang atas arahan Ibu Gubernur kita jadikan satu HLM yang sangat penting,” ujar Ibrahim.
Ibrahim menjelaskan bahwa pihaknya mencatat sejumlah poin strategis, terutama terkait TPID.
Menjelang momentum Natal dan Tahun Baru, serta Ramadan dan Idulfitri, TPID harus meningkatkan kesiapsiagaan dalam menjaga stabilitas harga dan ketersediaan pasokan komoditas pangan.
“Kesiapsiagaan TPID menjelang akhir tahun dan periode Ramadan-Idulfitri menjadi fokus utama kami,” tegasnya.
Selain itu, HLM juga membahas penguatan TP2DD. Menurut Ibrahim, digitalisasi menjadi elemen penting untuk mendukung efisiensi layanan publik dan memperkuat ekosistem ekonomi digital di daerah.
Pembahasan forum kemudian mengerucut pada peluncuran TP2ED, yang sejalan dengan program Presiden dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang tinggi, inklusif, dan berkelanjutan.
“Ini menjadi ujungnya, bagaimana kita mendorong ekonomi tumbuh tinggi, inklusif, dan berkelanjutan. Dukungan semua pihak atas tiga even besar yang tergabung dalam HLM hari ini sungguh luar biasa,” ungkap Ibrahim.
Dalam kesempatan itu, BI Jatim juga menegaskan kesiapan untuk memperkuat kolaborasi lintas wilayah.
Ibrahim menyebut kantor perwakilan BI di Malang, Kediri, dan Jember siap mendukung penuh berbagai program sinergi yang diluncurkan oleh Gubernur bersama seluruh bupati dan wali kota se-Jawa Timur.
“Kami dari Bank Indonesia siap mendukung seluruh program sinergi yang digagas Ibu Gubernur dan para kepala daerah,” pungkasnya. (mus/opi)
Editor : Nofilawati Anisa