Industri & Perdagangan Infrastruktur Otomotif Perbankan & Keuangan Person of The Year Properti Transportasi & Logistik Wisata & Kuliner

BI Sebut Jumlah Uang Beredar Tumbuh 7,7 Persen Jadi Rp 9.783,1 Triliun

Nofilawati Anisa • Jumat, 21 November 2025 | 22:52 WIB
ILUSTRASI: Salah satu petugas bank plat merah sedang menata tumpukan rupiah dalam berbagai macam nilai.
ILUSTRASI: Salah satu petugas bank plat merah sedang menata tumpukan rupiah dalam berbagai macam nilai.

RADAR SURABAYA BISNIS - Bank Indonesia (BI) menyebutkan bahwa likuiditas perekonomian atau uang beredar dalam arti luas (M2) pada Oktober 2025 tumbuh positif.

Yakni sebesar 7,7 persen secara tahunan (year on year/yoy) mencapai Rp 9.783,1 triliun.

“Posisi M2 pada Oktober 2025 tercatat sebesar Rp 9.783,1 triliun atau tumbuh sebesar 7,7 persen (yoy), setelah pada bulan sebelumnya tumbuh sebesar 8,0 persen (yoy),” kata Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso dalam keterangannya, Jumat (21/11).

Lebih lanjut perkembangan tersebut didorong oleh pertumbuhan uang beredar sempit (M1) sebesar 11,0 persen (yoy) dan uang kuasi sebesar 5,5 persen (yoy).

Perkembangan M2 pada Oktober dipengaruhi oleh aktiva luar negeri bersih, penyaluran kredit, dan tagihan bersih kepada Pemerintah Pusat (Pempus).

“Aktiva luar negeri bersih pada Oktober tumbuh sebesar 10,4 persen (yoy), melanjutkan pertumbuhan pada September sebesar 12,6 persen (yoy),” ujarnya.

Sementara penyaluran kredit pada Oktober tumbuh 6,9 persen (yoy), setelah pada bulan sebelumnya tumbuh sebesar 7,2 persen (yoy).

Dalam hal ini, kredit yang diberikan hanya dalam bentuk pinjaman (loans), dan tidak termasuk instrumen keuangan yang dipersamakan dengan pinjaman, seperti surat berharga (debt securities), tagihan akseptasi (banker's acceptances), dan tagihan repo.

“Kredit yang masuk dalam perhitungan juga tidak termasuk kredit yang diberikan oleh kantor bank umum yang berkedudukan di luar negeri, dan kredit yang disalurkan kepada pemerintah pusat dan bukan penduduk,” jelasnya.

Selanjutnya, kata Ramdan, tagihan bersih kepada pemerintah pusat tercatat tumbuh sebesar 5,4 persen (yoy), setelah pada September 2025 atau tumbuh sebesar 6,5 persen (yoy).

Di sisi lain, bank sentral juga mencatat uang primer (M0) adjusted pada Oktober 2025 yang tumbuh sebesar 14,4 persen (yoy).

“Melanjutkan pertumbuhan bulan sebelumnya sebesar 18,6 persen (yoy) sehingga tercatat sebesar Rp 2.117,6 triliun,” jelasnya.

Perkembangan ini dipengaruhi oleh pertumbuhan giro bank umum di BI adjusted sebesar 27,1 persen (yoy) dan uang kartal yang diedarkan sebesar 13,4 persen (yoy).

Berdasark¬an faktor yang memengaruhinya, pertumbuhan M0 adjusted telah mempertimbangkan dampak pemberian insentif likuiditas (pengendalian moneter adjusted). (ara/opi)

 

Editor : Nofilawati Anisa
#radar surabaya bisnis #bank indonesia #jumlah uang beredar #pertumbuhan #Oktober 2025 #september 2025 #ramdan denny prakoso