Industri & Perdagangan Infrastruktur Otomotif Perbankan & Keuangan Person of The Year Properti Transportasi & Logistik Wisata & Kuliner

Sektor Keuangan dan Industri Dominasi Emiten yang Antre IPO di BEI

Nofilawati Anisa • Minggu, 9 November 2025 | 19:46 WIB
ILUSTRASI: Aktivitas perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) Jakarta.
ILUSTRASI: Aktivitas perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) Jakarta.

“Sampai dengan awal November 2025, terdapat 13 perusahaan dalam pipeline pencatatan saham BEI. Mayoritas berasal dari sektor keuangan dan industri, dengan variasi aset yang cukup beragam.”

I Gede Nyoman Yetna
Direktur Penilaian Perusahaan BEI

RADAR SURABAYA BISNIS - Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat sebanyak 13 perusahaan masih berada dalam pipeline pencatatan saham per 7 November 2025.

Dari jumlah tersebut, mayoritas berasal dari perusahaan skala menengah dengan aset antara Rp 50 miliar hingga Rp 250 miliar.

Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna, mengatakan, dari 13 calon emiten tersebut, dua perusahaan memiliki aset kecil di bawah Rp 50 miliar, enam perusahaan berskala menengah, dan lima perusahaan tergolong besar dengan aset di atas Rp 250 miliar.

“Sampai dengan awal November 2025, terdapat 13 perusahaan dalam pipeline pencatatan saham BEI. Mayoritas berasal dari sektor keuangan dan industri, dengan variasi aset yang cukup beragam,” ujar Nyoman dikutip, Minggu (9/11/2025).

Adapun berdasarkan klasifikasi sektor, calon emiten tersebut terdiri dari dua perusahaan sektor basic materials, satu consumer cyclicals, satu consumer non-cyclicals, empat financials, dua industrials, dua technology, dan satu transportation & logistic.

Sejak awal tahun hingga 7 November 2025, 24 perusahaan baru telah tercatat di BEI dengan total dana yang berhasil dihimpun sebesar Rp 15,21 triliun.

Jumlah tersebut sedikit lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Selain pipeline IPO, BEI juga mencatat terdapat 21 emisi efek bersifat utang dan sukuk (EBUS) dari 16 penerbit yang sedang dalam proses, dengan total penghimpunan dana mencapai Rp 180,8 triliun.

Nyoman melanjutkan, hingga saat ini belum ada rencana penawaran umum perdana saham (IPO) dari perusahaan pelat merah.

“Belum ada (IPO BUMN). Namun kami yakin ke depan kontribusi dari State Owned Enterprise akan dapat membantu market deepening dari pasar modal Indonesia,” ujar Nyoman.

Ia menambahkan, BEI tetap menjalin komunikasi dengan Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan Danantara sebagai entitas baru yang menaungi sejumlah BUMN.

Nyoman menyebut Bursa berharap ke depan akan muncul emiten-emiten unggulan dari sektor tersebut untuk memperkuat likuiditas dan kedalaman pasar saham nasional.

Di sisi lain, Direktur Utama BEI Iman Rachman mengungkapkan sejumlah perusahaan besar kini tengah dalam tahap penjajakan.

“Sekarang ini di pipeline kita ada dua sampai tiga calon emiten besar. Terutama ada satu dari sektor perbankan, ada consumer, dan mining. Mereka ini grup besar,” ujarnya di Jakarta, Rabu (5/11/2025).

Ia menambahkan, minat konglomerasi untuk melantai di bursa juga terus meningkat untuk tahun depan.

“Tahun depan kita sudah banyak yang datang juga, dari grup-grup konglo, mereka cukup optimis untuk masuk di tahun depan,” kata Iman.

BEI memproyeksikan aktivitas penawaran umum perdana saham (IPO) akan kembali semarak pada 2026.

Terutama dari kelompok usaha besar atau konglomerasi yang mulai menunjukkan optimisme baru untuk masuk pasar modal. (nis/opi)

Editor : Nofilawati Anisa
#antre #perusahaan #radar surabaya bisnis #emiten #industri #bursa efek indonesia #keuangan #initial public offering (ipo)