Industri & Perdagangan Infrastruktur Otomotif Perbankan & Keuangan Person of The Year Properti Transportasi & Logistik Wisata & Kuliner

OJK Catat Aset Keuangan Syariah Lebih dari Rp 3.000 Triliun, Surabaya Jadi Tuan Rumah IIFS 2025

Nofilawati Anisa • Senin, 3 November 2025 | 22:31 WIB
SAMBUTAN: Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar di pembukaan Indonesia Islamic Finance Summit (IIFS) 2025 yang digelar di Hotel Westin Surabaya, Senin (3/11/2025).
SAMBUTAN: Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar di pembukaan Indonesia Islamic Finance Summit (IIFS) 2025 yang digelar di Hotel Westin Surabaya, Senin (3/11/2025).

“Aset keuangan syariah nasional di luar nilai kapitalisasi saham perusahaan-perusahaan terbuka syariah mencapai lebih dari Rp 3.000 triliun dan berkontribusi pada pangsa keuangan sebesar 11,4 persen.”

Mahendra Siregar
Ketua Dewan Komisioner OJK

RADAR SURABAYA BISNIS - Industri keuangan syariah nasional terus menunjukkan pertumbuhan positif.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat hingga saat ini nilai total aset keuangan syariah mencapai lebih dari Rp 3.000 triliun.

Ketua Dewan Komisioner OJK, Mahendra Siregar mengatakan, nilai total aset tersebut mampu memberikan kontribusi terhadap pangsa pasar keuangan syariah hingga 11,4 persen.

OJK optimitis industri keuangan syariah nasional semakin berkembang seiring dengan terus digencarkannya pengembangan literasi dan inklusi keuangan syariah, serta besarnya potensi dan inovasi pendalaman pasar yang dilakukan.

“Pada saat ini, aset keuangan syariah nasional di luar nilai kapitalisasi saham perusahaan-perusahaan terbuka syariah mencapai lebih dari Rp 3.000 triliun dan berkontribusi pada pangsa keuangan sebesar 11,4 persen,” ungkap Mahendra di pembukaan Indonesia Islamic Finance Summit (IIFS) 2025 yang digelar di Hotel Westin Surabaya, Senin (3/11/2025).

Ia menjelaskan, capaian tersebut merupakan bentuk kontribusi positif dari seluruh industri jasa keuangan syariah.

Hal itu mencakup perbankan syariah, pasar modal syariah, perasuransian syariah, penjaminan syariah, dana pensiun syariah, lembaga pembiayaan syariah, perusahaan modal ventura, lembaga keuangan mikro, dan lembaga jasa keuangan syariah lainnya.

“Lebih dari 10 industri jasa keuangan syariah sangat besar, dengan potensi masing-masing, apalagi dengan kekuatan sinergi dan integrasi,” lanjutnya.

Lebih jauh Mahendra mengungkapkan, tingginya potensi industri keuangan syariah sejalan dengan hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025.

Untuk sektor syariah, tingkat literasi tercatat sebesar 43,42 persen, sedangkan tingkat inklusi mencapai 13,41 persen.

“Tingkat inklusi ini merefleksikan pangsa pasar secara aset sebesar 11,4 persen. Jadi jelas, besaran pangsa pasar keuangan syariah akan sangat besar kontribusinya terhadap keuangan nasional,” jelas Mahendra.

Sementara itu, Surabaya mendapat kehormatan menjadi tuan rumah IIFS 2025.

IIFS yang mempertemukan ratusan pelaku industri keuangan syariah ini baru kali pertama digelar di Indonesia, dan diharapkan mampu meningkatkan iklim keuangan syariah dalam negeri. (nis/opi)

Editor : Nofilawati Anisa
#Mahendra Siregar #ojk #surabaya #aset #keuangan #Indonesia Islamic Finance Summit 2025 #syariah #IIFS 2025