RADAR SURABAYA BISNIS – Literasi keuangan menjadi poin penting yang terus digerakkan oleh pemerintah agar masyarakat kita semakin melek keuangan.
Kali ini PT Bank Neo Commerce Tbk (BNC) sebagai salah satu bank dengan layanan digital di Indonesia, menggelar kegiatan literasi keuangan dengan menggandeng Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Trunojoyo Madura (UTM).
Kegiatan literasi keuangan yang menyasar mahasiswa sebagai perwakilan generasi muda ini dilakukan secara tatap muka dan daring.
Yaitu membahas tantangan mengelola keuangan dan juga waspada terhadap tindak kejahatan di era digital.
Wakil Dekan Bidang Akademik FEB UTM, Dr. A. Yahya Surya Winata, S.E., M.Si., mengatakan, sebagai akademisi mereka berharap para praktisi keuangan dapat memberikan pengetahuan dan wawasannya terkait industri kepada para mahasiswa.
“Hal ini bertujuan tentunya untuk melengkapi pembelajaran bagi para mahasiswa, bahwa tidak hanya belajar mengenai teori-teori yang ada tapi juga pengalaman langsung dari para praktisi di industrinya masing-masing,” ungkapnya saat membuka acara lietrasi keuangan bertajuk Tantangan Mengelola Keuangan di Era Digital dan Mawas terhadap Penipuan Digital di UTM, Selasa (28/10/2025).
“Mewakili Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Trunojoyo Madura kami sangat mengapresiasi dengan kedatangan Bank Neo Commerce untuk membagikan literasi keuangan kepada para mahasiswa kami. Kami harapkan kegiatan ini dapat menjadi tonggak awal untuk kolaborasi-kolaborasi selanjutnya di masa mendatang,” sambungnya.
Head of Public Relations & Communications BNC, Puji Agung Budiman, mengatakan, era digital saat ini memang sangat memudahkan bagi kita dalam melakukan transaksi sehari-hari dan juga mengelola keuangan.
Namun, seperti dua sisi mata uang, ada saja hal negatif yang muncul dari era digital ini.
“Fenomena terkait pinjaman online ilegal, penggunaan paylater yang tidak bertanggung jawab, dan juga maraknya judi online di tengah-tengah masyarakat tidaklah bisa dihindarkan, namun tentunya bisa kita mitigasi,” jelasnya.
Menurut data dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2023, sekitar 78 persen pengguna pinjaman daring memiliki pendapatan sekitar Rp 1 juta hingga Rp 5 juta.
Berdasarkan survei terbaru tahun 2025, APJII mencatat, 45,15 persen milenial mengaku menggunakan pinjaman online, lebih tinggi dibandingkan 41,44 persen Gen Z.
Sementara itu, Generasi X berada di posisi ketiga dengan 11,75 persen, dan Baby Boomers hanya 1,65 persen.
Fakta ini menunjukkan bahwa utang pinjaman daring bukan hanya masalah individual, tetapi juga fenomena yang telah merata di masyarakat Indonesia, terutama di kalangan generasi muda dan dewasa.
Head of Fraud Operations BNC, Vicky Valentino Frickel, mengatakan, pihaknya sebagai salah satu pelaku usaha jasa keuangan selalu berperan aktif dalam mendukung program pemerintah dalam upaya meningkatkan literasi keuangan masyarakat Indonesia.
BNC menaruh perhatian besar terhadap edukasi keuangan, khususnya bagi kalangan generasi muda.
“Karena kami percaya bahwa literasi keuangan, terutama di era digital saat ini merupakan fondasi kemandirian finansial bagi generasi muda. Kalangan generasi muda, termasuk tentunya mahasiswa merupakan kelompok yang paling aktif dalam melakukan transaksi digital, maka dari itu penting bagi mereka untuk memahami risiko yang ada dan menerapkan cara pengelolaan keuangan yang bijak,” jelas Vicky.
Sebagai perwakilan mahasiswa, Laurentin Carolin Tiara, yang akrab disapa Laurent mengatakan, fenomena pinjaman online memang terjadi juga di kalangan mahasiswa.
“Ada teman saya yang memang mengajukan pinjaman karena memang kepepet uangnya sudah habis sama sekali. Tapi ada teman saya yang lain yang mengajukan pinjaman sampai terlilit hutang, dan setelah ditelusuri ternyata memang gaya hidupnya yang agak hedon. Pinjamannya juga ternyata setelah dicari tahu adalah pinjaman online ilegal, jadi memang pengetahuan tentang keuangan seperti ini sangat penting bagi mahasiswa,” jelasnya.
Sejak bertransformasi menjadi bank dengan layanan digital, BNC konsisten setiap tahun untuk berkolaborasi dengan berbagai mitra perusahaan, merek, dan komunitas dalam rangka menyelenggarakan kegiatan literasi keuangan.
Vicky menambahkan, “BNC selalu berupaya mendukung program-program pemerintah dalam meningkatkan taraf inklusi dan literasi masyarakat Indonesia. Tujuan mulia ini tidak akan tercapai tanpa dukungan dengan berbagai pihak melalui kolaborasi yang ciamik.”
BNC menyelenggarakan kegiatan literasi keuangan bersama Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Trunojoyo Madura ini juga dalam rangka mendukung program Gerakan Nasional Cerdas Keuangan (Gencarkan) 2025.
Juga dalam rangkaian acara Bulan Inklusi Keuangan yang dicanangkan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
“Kami berharap selain menawarkan layanan keuangan yang lengkap untuk nasabah dan masyarakat Indonesia secara luas, Bank Neo Commerce juga mampu untuk terus berkomitmen memberikan edukasi keuangan kepada khalayak luas, tentunya melalui berbagai kolaborasi dengan pihak lain, seperti support yang luar biasa dari Universitas Trunojoyo Madura ini,” tutup Vicky. (nis/opi)
Editor : Nofilawati Anisa