Industri & Perdagangan Infrastruktur Otomotif Perbankan & Keuangan Person of The Year Properti Transportasi & Logistik Wisata & Kuliner

Surabaya Dominasi Investasi Pasar Modal di Jatim

Nofilawati Anisa • Rabu, 22 Oktober 2025 | 22:22 WIB
PRESENTASI: Kepala BEI Wilayah Jawa Timur Cita Mellisa menjelaskan perkembangan pasar modal di Provinsi Jawa Timur.
PRESENTASI: Kepala BEI Wilayah Jawa Timur Cita Mellisa menjelaskan perkembangan pasar modal di Provinsi Jawa Timur.

"Kota Surabaya masih menjadi pusat aktivitas pasar modal di Jatim, baik dari sisi jumlah investor maupun nilai transaksi.”

Cita Mellisa
Kepala BEI Wilayah Jatim

RADAR SURABAYA BISNIS – Iklim investasi pasar modal di Jawa Timur terus menunjukkan perkembangan yang positif.

Pertumbuhan investasi pasar modal di provinsi paling timur di Pulau Jawa ini menunjukkan geliat yang menjanjikan.

Data Bursa Efek Indonesia (BEI) Wilayah Jawa Timur menyebutkan, hingga Agustus 2025, jumlah investor pasar modal di Provinsi Jawa Timur telah mencapai 2 juta Single Investor Identification (SID).

Angka ini setara dengan 10,5 persen dari total investor nasional yang berjumlah 18,9 juta.

Kepala Bursa Efek Indonesia (BEI) Wilayah Jawa Timur, Cita Mellisa, mengatakan, Kota Surabaya menempati posisi teratas sebagai pusat aktivitas pasar modal di Jawa Timur.

Baik dari segi jumlah investor maupun nilai transaksi saham.

“Kota Surabaya masih menjadi pusat aktivitas pasar modal di Jatim, baik dari sisi jumlah investor maupun nilai transaksi. Surabaya menyumbang sekitar 19 persen terhadap total investor Jatim, diikuti Kabupaten Sidoarjo (8 persen), Kabupaten Jember (6 persen), serta Kota dan Kabupaten Malang (masing-masing 5 persen),” ungkap Cita, Selasa (21/10/2025).

Ia menjelaskan, dominasi Surabaya juga terlihat dari nilai transaksi saham yang mencapai Rp 327,29 triliun.

Angka tersebut jauh melampaui wilayah lainnya seperti Kota Malang (Rp 49,21 triliun), Kabupaten Sidoarjo (Rp 36,60 triliun), Kota Kediri (Rp 14,47 triliun), dan Kota Mojokerto (Rp 11,51 triliun).

"Total transaksi saham dari seluruh Jawa Timur sendiri mencapai Rp 539,16 triliun," sambungnya.

Lebih jauh Cita menjelaskan, meskipun tingkat literasi pasar modal secara nasional masih lebih rendah dibanding inklusinya—berdasarkan Survei OJK 2022, literasi sebesar 4,4 persen sedangkan inklusi mencapai 5,5 persen—jarak ini mulai mengecil.

Hal ini menunjukkan semakin mudahnya masyarakat mengakses produk keuangan formal, meskipun pemahamannya masih perlu ditingkatkan.

Menanggapi hal tersebut, BEI Jawa Timur terus menggencarkan berbagai inisiatif edukasi melalui program literasi keuangan, menyasar berbagai segmen masyarakat.

Ada beberapa program andalan yang tengah dilakukan.

Pertama yaitu Jelita (Jelajah Literasi Keuangan Jawa Timur), mengedukasi masyarakat umum, khususnya komunitas muda keagamaan, dengan pendekatan keuangan syariah.

Kemudian Berkah (Belajar Investasi untuk Karyawan Perusahaan Tercatat).

Menyasar karyawan dari perusahaan yang telah go public, termasuk PT Bank Jatim Tbk (BJTM), PT Mitra Pinasthika Mustika Tbk (MPMX), dan PT Benteng Api Technic Tbk (BATR).

Selanjutnya ada program Mabar Ceria (Mahasiswa Baru Cerdas Investasi dan Literasi Keuangan).

Mengedukasi mahasiswa baru dari berbagai universitas seperti Universitas Negeri Surabaya (Unesa) dan Universitas Islam Negeri Malik Ibrahim (UIN Maliki) Malang agar memahami investasi sejak dini.

“Kita juga punya Program Timnas (Tingkatkan Manfaat Investasi dan Literasi untuk ASN). Bertujuan melindungi aparatur sipil negara dari penipuan keuangan dan membekali mereka dengan kemampuan mengelola keuangan pribadi,” ungkap Cita.

Cita menegaskan bahwa penguatan literasi dan inklusi menjadi kunci membentuk masyarakat yang cerdas secara finansial.

“Kami ingin masyarakat Jawa Timur bisa berinvestasi dengan bijak dan produktif demi kesejahteraan jangka panjang,” pungkas Cita. (opi)

 

 

Editor : Nofilawati Anisa
#single investor identification #Cita Mellisa #BEI Wilayah Jatim #transaksi saham #surabaya #investasi #pasar modal #investor