RADAR SURABAYA BISNIS - Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bakal melesat alias to the moon dalam jangka pendek.
Hal itu disampaikannya di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI).
"Tujuan kami bukan untuk mendorong pasar modal tapi mendorong perekonomian. Saya masih punya uang cukup banyak untuk menambah lagi kalau diperlukan, tapi otomatis kalau ekonominya bagus pasar saham naik," ujar Purbaya di Gedung BEI Jakarta, Kamis (9/10).
Menurutnya, pergerakan di pasar saham akan melambangkan ekspektasi investor untuk ke depannya.
Mantan ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) itu juga menyinggung soal likuiditas baru yang digelontorkannya ke beberapa bank pelat merah dan bank daerah.
"Kan masih kurang dari satu bulan jalan (penempatan dana di bank Himbara dan BPD, Red), gak mungkin tiba-tiba lari tapi mereka bisa hitung ke depan akan seperti apa ekonominya dan Saya pikir dengan diskusi tadi mereka akan lebih yakin bahwa perbaikannya sifatnya struktural dan akan berkembang terus," lanjut Purbaya.
Ia bahkan optimistis dalam waktu dekat IHSG akan cenderung naik terus.
"Mungkin 10 tahun lagi seperti yang saya bilang (36.000), tadi jadi in short IHSG to the moon," ungkap Purbaya.
Ini adalah kunjungan pertama Purbaya ke BEI sebagai Menteri Keuangan.
Acara ini mengundang direktur utama perusahaan tercatat di bursa atau perwakilan direktur perusahaan.
Sebagai catatan, kemarin adalah tepat satu bulan Purbaya menjabat.
Dirinya dilantik Presiden Prabowo Subianto pada 8 September 2025, menggantikan Sri Mulyani Indrawati.
Purbaya selama menjabat satu bulan ini telah merilis kebijakan fiskal yang berbeda dari pendahulunya.
Dia menekan jumlah dana menganggur pemerintah yang masih tersimpan di Bank Indonesia (BI).
Dia pun menempatkan dana Rp 200 triliun di Bank Himbara.
Langkah ini, menurut Purbaya, penting agar uang negara tidak hanya mengendap di bank sentral, melainkan dapat segera disalurkan ke sektor riil untuk mendorong aktivitas ekonomi nasional.
Saat ini, dana pemerintah yang masih tersimpan di BI diperkirakan mencapai sekitar Rp 275 triliun, meski sebagian telah dipindahkan ke lima bank milik negara sejak pertengahan September lalu.
Purbaya menjelaskan bahwa pemerintah akan mengubah strategi pengelolaan kas negara dengan memperbanyak penerbitan surat utang jangka pendek sebagai sumber pembiayaan likuiditas.
Dengan skema tersebut, pemerintah tidak perlu lagi menahan dana besar di BI sebagai cadangan karena kebutuhan belanja dapat dipenuhi lebih cepat dan efisien.
Lulusan ITB ini menilai, langkah tersebut akan memperkuat stimulus fiskal, memperlancar realisasi belanja, serta menjadi salah satu cara menjaga momentum pertumbuhan ekonomi di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi. (nbc/opi)
Editor : Nofilawati Anisa