Industri & Perdagangan Infrastruktur Otomotif Perbankan & Keuangan Person of The Year Properti Transportasi & Logistik Wisata & Kuliner

Bos BI Optimistis Tahun Ini Ekonomi RI Tumbuh di Atas 5 Persen

Nofilawati Anisa • Senin, 22 September 2025 | 20:01 WIB
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo

RADAR SURABAYA BISNIS - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menegaskan kondisi perekonomian dalam negeri tetap terjaga dengan baik.

Namun, menurutnya, Indonesia masih perlu memperkuat pertumbuhan karena saat ini laju ekonomi masih berada di bawah kapasitas potensial.

“Setelah pada triwulan II/2025 ekonomi tumbuh 5,12 persen, ke depan kita perlu mendorong lebih jauh agar pertumbuhan berada di jalur yang lebih kuat,” ujar Perry dalam Rapat Kerja dengan Komisi XI DPR di Jakarta, Senin (22/9/2025).

Perry menilai, konsumsi rumah tangga masih belum sepenuhnya pulih.

Terutama pada kelompok menengah ke bawah, yang dibatasi daya beli dan ketersediaan lapangan kerja.

“Karena itu, dorongan investasi menjadi krusial, termasuk melalui realisasi program prioritas pemerintah seperti pembangunan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK),” sambungnya.

Dari sisi ekspor, Perry menyebut kinerja masih positif berkat peningkatan pengiriman produk pertanian, manufaktur, serta crude palm oil (CPO) ke India.

Ke depan, BI berkomitmen bersinergi dengan pemerintah agar kebijakan bank sentral dapat selaras dengan stimulus fiskal dan langkah penguatan sektor riil.

“Kami menyambut baik rencana peningkatan belanja pemerintah dan pelaksanaan paket kebijakan ekonomi. Hal itu diyakini dapat mendorong pertumbuhan sektor riil,” ujarnya.

Perry menegaskan, BI akan terus memperkuat bauran kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran guna menjaga stabilitas sekaligus mendorong pertumbuhan.

Secara keseluruhan, BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2025 dapat berada di kisaran atas proyeksi 4,6 persen-5,1 persen.

“Kami perkirakan bisa mencapai 5,1 persen atau sedikit lebih tinggi,” ujar Perry.

Dalam kesempatan yang sama, BI juga buka suara soal situasi nilai tukar rupiah yang melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Menurut Perry, pelemahan ini dipengaruhi oleh tekanan global dan dalam negeri.

"Minggu-minggu ini ada tekanan dari sisi global maupun domestik," ungkapnya.

Dari sisi global, kata Perry, ketidakpastian masih cukup tinggi.

AS sudah menurunkan suku bunga acuan atau Fed Fund Rate (FFR).

DXY berada dalam tren pelemahan. Sedangkan, aliran modal ke negara berkembang seperti Indonesia juga terbatas.

"DXY tren menurun meskipun minggu ke minggu mata uang dolar dipengaruhi oleh dinamika ekonomi dan politik yang terjadi. Maka aliran modal ke emerging market memang masih terjadi volatilitas," terangnya.

Perry meyakini, ke depan rupiah akan kembali stabil dan cenderung menguat.

"Tren nilai tukar rupiah akan bergerak stabil dan cenderung menguat sejalan dengan komitmen BI dalam menjaga stabilitas rupiah , imbal hasil menarik, inflasi rendah dan prospek ekonomi yang baik," pungkasnya. (ber/opi)

 

 

Editor : Nofilawati Anisa
#ekonomi #the fed #gubernur #radar surabaya bisnis #bank indonesia #pertumbuhan #suku bunga #perry warjiyo #rumah tangga #konsumsi