RADAR SURABAYA BISNIS - Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Jawa Timur M Noor Nugroho mengatakan transaksi pembayaran terjaga tumbuh positif, kendati melambat seiring normalisasi konsumsi Rumah Tangga (RT).
Menurutnya digitalisasi sistem pembayaran terus berlanjut tercermin dari pertumbuhan transaksi menggunakan QRIS yang masih positif.
“Sistem pembayaran di Jawa Timur pada Triwulan II 2025 tumbuh 7,35 persen (yoy), tetap mencatatkan pertumbuhan positif meskipun melambat dibandingkan Triwulan sebelumnya yang tumbuh 17,45 persen,” katanya, Minggu (24/8/2025).
Menurut Nugroho, perlambatan ini terutama dipengaruhi oleh melemahnya kinerja transfer melalui BI-FAST, Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia (SKNBI), dan Real-Time Gross Settlement (RTGS), serta penurunan transaksi tunai maupun nontunai melalui penggunaan APMK, UE, dan QRIS.
“Perkembangan uang rupiah beredar di Jawa Timur tercatat net-inflow seiring dengan normalisasi konsumsi RT pasca HBKN Idulfitri,” jelasnya.
Lebih lanjut Nugroho mengatakan nominal dan volume transaksi QRIS di Jawa Timur pada Juni 2025 masing-masing sebesar Rp 10,6 triliun (meningkat 152 persen yoy) dan 114 juta transaksi (meningkat 185 persen yoy).
Peningkatan transaksi secara tahunan menggambarkan peningkatan akseptansi QRIS di masyarakat dalam bertransaksi.
“Total pengguna QRIS di Jawa Timur hingga Juni 2025 sebanyak 8,61 juta pengguna dengan merchant berjumlah 4,66 juta,” katanya.
Menurutnya perluasan penguna baru QRIS terus diupayakan melalui berbagai program kolaborasi antara BI dan Penyedia Jasa Pembayaran, serta Pemda, yang menyasar berbagai komunitas masyarakat disertai pula dengan penguatan literasi mengenai manfaat dan keamanan transaksi. (mus/opi)
Editor : Nofilawati Anisa