Industri & Perdagangan Infrastruktur Otomotif Perbankan & Keuangan Person of The Year Properti Transportasi & Logistik Wisata & Kuliner

Industri Perbankan Masih Tunjukkan Resiliensi Kuat, Kredit Perbankan Tumbuh 7,03 Persen

Nofilawati Anisa • Senin, 25 Agustus 2025 | 12:26 WIB
DIMINATI: Kredit Usaha Rakyat (KUR) diminati masyarakat karena bisa digunakan untuk menopang usaha mereka.
DIMINATI: Kredit Usaha Rakyat (KUR) diminati masyarakat karena bisa digunakan untuk menopang usaha mereka.

RADAR SURABAYA BISNIS - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan, sektor perbankan Indonesia menunjukkan daya tahan yang kuat di tengah dinamika perekonomian dan politik global.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae mengatakan, kinerja perbankan diprediksi tetal stabil meskipun terdapat perlambatan pertumbuhan kredit yang sejalan dengan siklus ekonomi.

Industri perbankan Indonesia masih menunjukkan resiliensi yang kuat dengan kinerja yang positif terhadap dinamika global yang terjadi.

Pada Juli, kredit perbankan tetap tumbuh solid sebesar 7,03 persen year on year (yoy).

Hal ini didukung oleh kualitas aset yang tetap baik dengan Non Performing Loan (NPL) terjaga di level 2,28 persen dan Loan at Risk (LaR) menurun menjadi sebesar 9,68 persen.

"Pertumbuhan kredit juga masih diikuti dengan pertumbuhan kredit investasi yang naik 12,42 persen yoy dengan didorong oleh sektor berbasis ekspor (pertambangan, perkebunan, Red) serta transportasi, industri dan jasa sosial," kata Dian dikutip dari keterangan resmi, Minggu (24/8).

Ia menjelaskan, kenaikan pertumbuhan tersebut masih sejalan dengan sektor yang menjadi penopang pertumbuhan pada kuartal II/ 2025.

Sementara itu, Dana Pihak Ketiga (DPK) tercatat tumbuh sebesar 7 persen yoy, sehingga turut menjadi salah satu faktor pendorong penguatan likuiditas perbankan.

Selanjutnya, kondisi likuiditas perbankan terpantau memadai diperkuat dengan kondisi permodalan yang solid serta risiko kredit yang terjaga.

Kondisi tersebut tecermin dari rasio AL/NCD dan AL/DPK masing-masing sebesar 119,43 persen dan 27,08 persen.

“Masih di atas threshold masing-masing 50 persen dan 10 persen,” lanjutnya.

Dian menjelaskan, kondisi likuiditas yang membaik juga menunjukkan bahwa kinerja perbankan tetap kuat dengan ditopang implementasi tata kelola yang baik.

Serta mengedepankan prinsip kehatihatian dalam menjalankan fungsi intermediasi yang diproyeksikan dapat tetap mencatatkan pertumbuhan didukung dengan beragam sentimen positif.

“Berdasarkan data Juni 2025, permodalan perbankan juga masih solid dengan CAR yang terjaga tinggi sebesar 25,81 persen. Menunjukkan kesiapan perbankan dalam menyerap potensi risiko yang muncul ke depannya, terutama di tengah kondisi global yang volatile,” ungkap Dian.

OJK juga menilai pada semester I/2025, perekonomian global menghadapi ketidakpastian akibat perang dagang dan ketegangan geopolitik.

Termasuk penerapan tarif impor oleh Amerika Serikat (AS) serta konflik di Timur Tengah.

“Kondisi ini menekan perdagangan global dan memperlambat pertumbuhan ekonomi di berbagai negara, termasuk Indonesia,” ujarnya.

Namun, pada paruh kedua tahun 2025, tensi mulai mereda setelah AS dan sejumlah negara mitra menyepakati penurunan tarif impor.

Termasuk menjadi 19 persen untuk Indonesia, serta membaiknya situasi geopolitik.

Perkembangan positif tersebut mendorong International Monetary Fund (IMF) merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi global naik menjadi 3 persen pada 2025 dan 3,1 persen pada 2026, dari sebelumnya 2,8 persen dan 3 persen.

Sejalan dengan itu, proyeksi pertumbuhan ekonomi domestik juga direvisi meningkat menjadi 4,8 persen pada 2025– 2026 dari sebelumnya 4,7 persen. (uta/opi)

 

Editor : Nofilawati Anisa
#kredit #Dian Ediana Rae #siklus ekonomi #ojk #npl #pertumbuhan #aset #perbankan #perlambatan #kualitas #Dinamika #Resiliensi