RADAR SURABAYA BISNIS - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Jawa Timur memastikan sektor jasa keuangan di provinsi paling timur di Pulau Jawa ini dalam kondisi stabil dan resilien, meskipun secara global perekonomian sedang tidak baik-baik saja.
Kepala OJK Jawa Timur, Yunita Linda Sari, mengatakan kinerja industri keuangan Jawa Timur terus mengalami pertumbuhan positif, didukung permodalan yang kuat, likuiditas memadai, dan risiko yang terkendali.
“Kondisi ini menunjukkan bahwa sektor jasa keuangan Jawa Timur mampu menjaga momentum pertumbuhan di tengah tantangan global,” ujar Yunita di acara Media Briefing dengan tema “Sinergi dan Kolaborasi untuk Menjaga Stabilitas dan Mengakselerasi Pertumbuhan Ekonomi dalam Rangka Mewujudkan Jawa Timur sebagai Gerbang Baru Nusantara” yang digelar di Gedung OJK Surabaya, Kamis (14/8/2025).
Yunita menjelaskan, kondisi jasa keuangan Jawa Timur yang stabil ini itu tercermin dari intermediasi perbankan yang tumbuh positif, baik dari sisi penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) maupun penyaluran kredit yang terus meningkat.
Secara year on year (yoy), intermediasi perbankan di Jawa Timur per Juni 2025 tetap berada di jalur positif.
Dengan pertumbuhan kredit sebesar 5,46 persen dan DPK sebesar 3,48 persen.
Permodalan perbankan terjaga kuat dengan Capital Adequacy Ratio (CAR) sebesar 30,47 persen.
Risiko kredit pun termitigasi, tercermin dari rasio Non-Performing Loan (NPL) gross sebesar 3,58 persen, sementara rasio likuiditas yang diukur dengan AL/DPK dan AL/NCD berada di atas ambang batas (threshold).
“Secara keseluruhan, sektor keuangan Jawa Timur berada dalam kondisi sehat. Sinergi dan kolaborasi antar-stakeholder menjadi kunci menjaga stabilitas sekaligus mendorong percepatan pertumbuhan ekonomi di daerah ini,” ungkapnya.
Salah satu indikator penting adalah capaian penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang hingga Juni 2025 telah mencapai Rp 66,73 triliun.
“Angka ini menempatkan Jawa Timur di posisi kedua tertinggi secara nasional setelah Jawa Tengah. Mayoritas KUR disalurkan untuk modal kerja, dengan porsi terbesar pada kategori non-UMKM,” lanjutnya.
Pencapaian ini menunjukkan peran KUR yang signifikan dalam mendorong aktivitas usaha dan memperkuat daya tahan ekonomi daerah.
Dengan capaian KUR yang konsisten tinggi dan stabilitas sektor keuangan yang terjaga, Yunita optimistis Jawa Timur semakin mengukuhkan perannya sebagai salah satu penggerak utama ekonomi nasional.
“Sekaligus menjadi gerbang baru pertumbuhan di kawasan timur Indonesia,” tegasnya.
Selain sektor perbankan, OJK Jatim mencatat kinerja positif di pasar modal.
Hingga pertengahan 2025, terdapat 55 emiten asal Jawa Timur dengan total dana terhimpun Rp 14,7 triliun melalui penawaran umum.
“Hal ini menunjukkan minat pasar yang tetap tinggi meski sentimen ekonomi global cenderung pesimis,” imbuhnya.
Pertumbuhan juga terlihat pada sektor penerbitan, terutama dari industri barang konsumsi primer yang menjadi kebutuhan pokok masyarakat.
Industri reksa dana pun menunjukkan tren positif baik dari jumlah nasabah maupun nominal transaksi.
Sementara itu, industri penjaminan di Jawa Timur turut mencatatkan pertumbuhan meskipun tidak setinggi periode sebelumnya.
Yunita menjelaskan, OJK Jawa Timur juga terus memprioritaskan perlindungan terhadap konsumen.
Sepanjang Januari–Juni 2025, tercatat 154 layanan melalui aplikasi APPK dan 3.626 layanan langsung, disertai penanganan 909 pengaduan terkait aktivitas ilegal.
“Sagas Pasti terus kami optimalkan untuk mencegah dan menindak praktik keuangan illegal,” ujarnya.
Untuk mendukung perekonomian daerah, Yunita menambahkan, OJK Jawa Timur mengembangkan program berbasis potensi lokal seperti Pisang Mas Kirana di Lumajang dan melon di Blitar serta Lamongan.
“Melalui skema Tunas (Pertanian Unggul, Berkelanjutan, Berdaya Saing), OJK Jawa Timur mendorong penguatan sektor pertanian sekaligus memperluas akses keuangan,” urainya.
Ia menambahkan, upaya literasi dan inklusi keuangan juga digencarkan.
“Kami sudah melakukan 455 kegiatan edukasi, serta program seperti Laku Pandai, Simpel (Simpanan Pelajar), dan Kejar (Satu Rekening Satu Pelajar) untuk mendorong masyarakat mengenal dan memanfaatkan produk keuangan,” pungkas Yunita. (opi)
Editor : Nofilawati Anisa