RADAR SURABAYA BISNIS - Bursa Efek Indonesia (BEI) resmi menghapus pencatatan atau delisting terhadap 10 saham emiten, Senin (21/7/2025).
Ke-10 saham itu "didepak" karena telah memenuhi kriteria pembatalan pencatatan saham atau delisting menurut Pengumuman Bursa nomor Peng DEL 00009/BEI.PP2/12-2024 dan Peng-DEL00001/BEI.PP3/12-2024 tanggal 19 Desember 2024 perihal Pembatalan Pencatatan Efek (Delisting).
Selain itu, juga mengacu pada Peraturan Bursa Nomor I-N tentang Pembatalan Pencatatan (Delisting) dan Pencatatan Kembali (Relisting).
Kriterianya antara lain, perusahaan tercatat mengalami kondisi atau peristwa signifikan yang berpengaruh negatif secara finansial atau hukum, dan tidak menunjukkan indikasi pemulihan memadai.
Selanjutnya, perusahaan tidak memenuhi persyaratan tercatat di bursa dan telah mengalami suspensi setidaknya selama 24 bulan terakhir.
“Bursa memutuskan penghapusan pencatatan kepada perusahaan tercatat yang efektif tanggal 21 Juli 2025,” ujar P.H. Kepala Divisi Pengaturan dan Operasional Perdagangan BEI Mulyana dalam keterbukaan informasi di BEI, Jakarta, Senin (21/7/2025).
Dengan dilakukannya delisting, Mulyana menjelaskan bahwa emiten tersebut tidak lagi memiliki kewajiban sebagai perusahaan tercatat.
Selanjutnya BEI akan menghapus nama perseroan dari daftar perusahaan tercatat yang mencatatkan sahamnya di BEI.
“Dalam hal perseroan akan kembali mencatatkan sahamnya di BEI, proses pencatatan saham dapat dilakukan dengan mengacu pada ketentuan yang berlaku,” ujar Mulyana.
Lantas, bagaimana nasib para pemegang saham dari emiten yang telah delisted?
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah menetapkan bahwa para emiten delisted harus melakukan pembelian kembali atau buyback saham.
Hal ini tertuang dalam Surat Edaran Otoritas Jasa Keuangan (SEOJK) no. 13 tahun 2023, yang mewajibkan para emiten yang dibatalkan pencatatan efeknya itu utuk melaksanakan buyback paling lambat 30 hari setelah pengumuman BEI mengenai keputusan delisting.
Para perusahaan yang delisted harus memberikan keterbukaan informasi mengenai rencana buyback dalam situs web BEI.
Informasi yang disampaikan harus memuat sedikitnya, jadwal pelaksanaan buyback saham, harganya, jangka waktu buyback, metode buyback, nama dan identitas perusahaan efek yang ditunjuk, jika pembelian kembali saham dilakukan melalui Bursa Efek, dan tujuan buyback agar jumlah pemegang saham kurang dari 50 pihak.
Pelaksanaan buyback saham para emiten yang delisted harus diselesaikan paling lambat enam bulan setelah tanggal keterbukaan informasi.
Aksi buyback saham itu dapat dilakukan tanpa terlebih dahulu memperoleh persetujuan rapat umum pemegang saham.
Buyback saham yang delisted juga dapat dilakukan sampai jumlah melebihi 10 persen dari modal disetor Perusahaan Terbuka, sehingga jumlah pemegang saham kurang dari 50 pihak atau jumlah lain yang ditentukan OJK.
Pelaksanaan buyback ini dapat dilakukan melalui Bursa Efek maupun di luar Bursa Efek.
Harga buyback saham atau harga penawaran tender mengacu pada harga rata-rata perdagangan saham Perusahaan Terbuka di Bursa Efek dalam jangka waktu 30 hari terakhir yang dihitung mundur dari hari perdagangan terakhir atau hari dihentikan sementara perdagangannya.
Selain itu, harga buyback juga bisa mengacu nilai buku per saham berdasarkan laporan keuangan terakhir, digunakan yang lebih tinggi.
Dalam surat edaran tersebut dijelaskan bahwa OJK berhak melayangkan perintah tertulis, memohonkan pembubaran, atau memohonkan pailit pada perusahaan terbuka yang tidak memenuhi kewajiban delisted. (nbc/opi)
10 Perusahaan yang Dihapus Pencatatan Efeknya di BEI
1. MAMI: PT Mas Murni Indonesia Tbk
2. MAMIP: PT Mas Murni Indonesia Tbk (Saham Preferen)
3. FORZ: PT Forza Land Indonesia Tbk
4. MYRX: PT Hanson International Tbk
5. MYRXP: PT Hanson International Tbk (Saham Preferen)
6. KRAH: PT Grand Kartech Tbk
7. KPAS: PT Cottonindo Ariesta Tbk
8. KPAL: PT Steadfast Marine Tbk
9. PRAS: PT Prima Alloy Steel Universal Tbk
10. NIPS: PT Nipress Tbk
Sumber: BEI
Editor : Nofilawati Anisa