Industri & Perdagangan Infrastruktur Otomotif Perbankan & Keuangan Person of The Year Properti Transportasi & Logistik Wisata & Kuliner

Realisasi Belanja Fiskal Jawa Timur Triwulan I/2025 Capai Rp 28,43 Triliun

Mus Purmadani • Selasa, 8 Juli 2025 | 00:34 WIB
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Jawa Timur Ibrahim
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Jawa Timur Ibrahim

RADAR SURABAYA BISNIS - Realisasi Pendapatan APBD Jawa Timur hingga triwulan I/2025 meningkat, didorong oleh realisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD) 38 kabupaten/kota.

Total pendapatan fiskal Provinsi Jawa Timur mencapai Rp 27,39 triliun.

Jumlah itu meningkat sebesar 8,77 persen (yoy) dibandingkan dengan realisasi tahun sebelumnya yang tercatat sebesar Rp 25,19 triliun.

Hal tersebut disampaikan Kepala Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi Jawa Timur Ibrahim, Senin (7/7/2025).

"Pemerintah Provinsi Jawa Timur secara konsisten mengoptimalkan PAD dari sektor pajak maupun non-pajak,” ungkap Ibrahim.

Ia melanjutkan, strategi peningkatan penerimaan pajak meliputi penguatan kolaborasi antara pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota se-Jawa Timur.

Dalam rangka penyiapan opsen pajak, perluasan digitalisasi pembayaran, intensifikasi sosialisasi kepatuhan pajak, pemberian relaksasi pembebasan denda pajak terutama pada akhir tahun.

“Serta pemanfaatan teknologi untuk memetakan potensi pajak baru," ujarnya.

Selain itu, lanjut Ibrahim, optimalisasi pendapatan non-pajak, juga terus dilakukan melalui peningkatan kontribusi Badan Usaha Milik Daerah (BUMD).

Serta pemanfaatan aset idle menjadi aset produktif guna mendukung pertumbuhan pendapatan daerah secara berkelanjutan.

"Kinerja belanja pemerintah menunjukkan pertumbuhan positif seiring dengan penerapan berbagai strategi untuk mengakselerasi realisasi belanja daerah,” sambung Ibrahim.

Realisasi belanja fiskal di Jawa Timur hingga triwulan I/2025 tercatat sebesar Rp 28,43 triliun.

Jumlah itu termoderasi dibandingkan realisasi triwulan yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 29,29 triliun.

“Perlambatan tersebut terutama dipengaruhi oleh normalisasi belanja pemerintah pasca tahun politik untuk pelaksanaan Pemilu dan Pilkada serentak tahun 2024," bebernya.

Namun demikian, lanjut Ibrahim, kontribusi belanja pemerintah terhadap aktivitas ekonomi pada triwulan laporan tetap terjaga.

Utamanya pada realisasi belanja pegawai dalam rangka pembayaran gaji Tunjangan Hari Raya (THR) dan Tunjangan Kinerja ASN pada Maret lalu.

Lebih lanjut Ibrahim menjelaskan, pertumbuhan belanja modal dibandingkan periode yang sama tahun lalu seiring dengan realisasi belanja modal jalan, irigasi, dan jaringan untuk mendukung program swasembada pangan pemerintah.

Sementara itu, lanjut Ibrahim, kondisi ketenagakerjaan Jawa Timur pada Februari meningkat dibandingkan Februari 2024 dan Agustus 2024.

Hal ini tecermin dari penurunan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) disertai peningkatan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) pada Februari 2025 dibandingkan Februari 2024.

"Penurunan TPT dibandingkan Februari 2024 seiring dengan pertumbuhan positif dan terjaganya ekonomi Jawa Timur pada triwulan I 2025. Sementara itu, penurunan TPT dibandingkan Agustus 2024 sejalan dengan peningkatan tenaga kerja informal pada sektor perdagangan," jelasnya.

Menurutnya, pada triwulan I/2025, kondisi ketenagakerjaan di Jawa Timur terpantau meningkat.

Perbaikan kondisi ketenagakerjaan di Jawa Timur tecermin dari peningkatan penyerapan tenaga kerja berdasarkan hasil Survei Kondisi Dunia Usaha – (SKDU) Bank Indonesia Jawa Timur pada triwulan laporan.

Peningkatan penyerapan tenaga kerja terutama terjadi pada LU Pertanian, Akomodasi dan Makanan Minuman, Jasa Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan, serta Jasa Kemasyarakatan.

"Kesejahteraaan masyarakat pedesaan yang direpresentasikan dengan Nilai Tukar Petani (NTP) mengalami penurunan pada triwulan I/2025, dari 111,96 pada triwulan IV menjadi 111,61. Penurunan dipengaruhi oleh penurunan penerimaan petani di sektor tanaman pangan dan peternakan, terutama penurunan harga gabah, ternak besar. Penurunan NTP yang lebih dalam tertahan oleh peningkatan NTP pada tanaman hortikultura, tanaman perkebunan rakyat, dan perikanan," terangnya.

Pada semester I/2025 (Maret), tingkat kesejahteraan masyarakat di Jawa Timur diprakirakan membaik dibandingkan semester II 2024 (September 2024).

"Potensi peningkatan kesejahteraan sejalan dengan potensi peningkatan mobilitas, membaiknya daya beli masyarakat, inflasi yang diperkirakan tetap terkendali, proyeksi perbaikan kinerja sektor manufaktur, investasi nonbangunan, serta kenaikan produksi padi dan hortikultura pada triwulan I 2025," pungkasnya. (mus/opi)

 

Editor : Nofilawati Anisa
#jawa timur #belanja #bank indonesia #pendapatan #pad #ibrahim #fiskal #realisasi