Industri & Perdagangan Infrastruktur Otomotif Perbankan & Keuangan Person of The Year Properti Transportasi & Logistik Wisata & Kuliner

Kebutuhan Uang Tunai di Jatim Meningkat, Ini Pemicunya

Mus Purmadani • Jumat, 4 Juli 2025 | 15:43 WIB
BELANJA: Pertumbuhan kebutuhan uang tunai di Jatim dipengaruhi peningkatan aktivitas konsumsi.
BELANJA: Pertumbuhan kebutuhan uang tunai di Jatim dipengaruhi peningkatan aktivitas konsumsi.

RADAR SURABAYA BISNIS - Pada triwulan I/2025, kebutuhan uang tunai di Jatim meningkat dibandingkan dengan triwulan sebelumnya.

Pertumbuhan ini sejalan dengan peningkatan aktivitas konsumsi.

Lonjakan kebutuhan uang tunai juga sejalan dengan kenaikan konsumsi terkait komponen penyediaan makan minum pada triwulan laporan seiring adanya momentum Imlek, Nyepi, Ramadan, dan persiapan HBKN Idulfitri tahun 2025.

Hal tersebut disampaikan Kepala Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi Jawa Timur Ibrahim, Kamis (3/7/2025).

Dia mengatakan peredaran uang kartal tercatat net-outflow, terutama dari wilayah Malang dan Kediri.

"Aktivitas tarik dan setor tunai yang dilakukan melalui Alat Pembayaran Menggunakan Kartu (APMK) dan Uang Elektronik (UE) tumbuh positif dibandingkan triwulan sebelumnya. Sistem pembayaran melalui aktivitas transaksi non-tunai turut meningkat. Peningkatan ini mencerminkan akselerasi aktivitas ekonomi di sektor utama akomodasi makan dan minum, " jelasnya.

Sementara itu, sistem pembayaran melalui aktivitas transfer dana besar mengalami kontraksi sejalan dengan termoderasinya kinerja investasi dan ekspor-impor.

Transaksi transfer dana besar melalui Bank Indonesia Real Time Gross Settlement (BI-RTGS), Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia (SKNBI), maupun BI-FAST mengalami kontraksi secara nominal dan volume dibandingkan triwulan sebelumnya.

"Penurunan ini mencerminkan deselerasi aktivitas ekonomi dunia usaha, terutama sektor industri perdagangan, pengolahan, dan konstruksi yang berdampak langsung pada turunnya transfer dana. Hal itu turut pula tercermin dari melemahnya hasil survei Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) secara umum pada triwulan laporan," katanya.

Lebih lanjut Ibrahim mengatakan transaksi perdagangan valuta asing di Jatim tercatat melambat dipengaruhi oleh turunnya kunjungan wisatawan mancanegara periode awal tahun 2025.

Kondisi ini sejalan dengan pola historis kunjungan wisman yang mengalami low season pasca momen HBKN Nataru.

"Di sisi lain, peningkatan ketidakpastian global turut mempengaruhi kecenderungan wisman untuk melakukan aktivitas perjalanan luar negeri," ujarnya.

Menurutnya digitalisasi pembayaran dan penguatan Cinta Bangga Paham Rupiah di Jatim terus didorong untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang tetap kuat.

Akseptansi digitalisasi pembayaran terus meningkat tecermin dengan penggunaan QRIS dan BI-FAST.

Dari sisi penggunaan, aktivitas transfer dana melalui SKNBI mulai tersubstitusi oleh BI-FAST yang menawarkan layanan lebih murah dan real-time.

Pergeseran ini menyebabkan Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia (SKNBI) lebih banyak digunakan untuk transaksi bernilai besar, sementara BI-FAST mengakomodasi transaksi nominal kecil hingga menengah.

"Hal ini tecermin dari meningkatnya rata-rata nilai transaksi di SKNBI dan RTGS yang mengindikasikan adanya perubahan pola penggunaan instrumen pembayaran oleh pelaku industri dan bisnis," katanya. (mus/opi)

Editor : Nofilawati Anisa
#digital #nyepi #kebutuhan #bank indonesia #uang elektronik #idulfitri #imlek #qris #uang tunai #konsumsi