RADAR SURABAYA BISNIS - Kepala Perwakilan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Jawa Timur, Dudung Rudi Hendratna, mengatakan hingga 31 Mei 2025 realisasi Pendapatan Negara mencapai Rp 97,8 triliun.
Jumah tersebut setara 34,64 persen dari target Pendapatan Negara di tahun 2025 sebesar Rp 282,65 triliun.
Pendapatan Negara tersebut terdiri dari Penerimaan Perpajakan terealisasi sebesar 34,07 persen atau Rp 94,4 triliun dari target.
Lalu, dari Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) mencapai 64,11 persen atau Rp 3,41 triliun dari target Rp 5,3 triliun.
“Penerimaan Perpajakan disumbang oleh penerimaan Ditjen Pajak sebesar Rp 46,85 triliun dan Penerimaan Kepabenan dan Cukai Ditjen Bea Cukai sebesar Rp 55,09 triliun atau 37,02 persen dari target,” katanya, Jumat (20/6).
Dudung menambahkan untuk realisasi Belanja Negara sampai dengan Mei 2025 telah terserap Rp 47,91 triliun atau 37,89 persen dari pagu Belanja Negara di Jawa Timur.
Kinerja belanja negara terdiri dari Belanja K/L sebesar Rp 14,03 triliun dan Ttransfer Ke Daerah (TKD) mencapai Rp 33,88 triliun.
“Hingga Mei 2025, Penerimaan Pajak mencapai Rp 46,85 triliun. Sektor Industri Pengolahan menjadi sektor usaha dengan penerimaan pajak terbesar sebesar Rp 26,60 triliun,” katanya.
Sementara itu, lanjut Dudung, Penerimaan Kepabeanan dan Cukai terealisasi sebesar Rp 55,09 triliun atau 37,02 persen dari target APBN.
Untuk penerimaan cukai terealiasi sebesar Rp 52,41 triliun atau 36,8 persen dari target, dipengaruhi oleh tidak diberlakukannya fasilitas penundaan 90 hari pada tahun 2025.
“Penerimaan bea masuk Rp 2,42 triliun atau 38,1 persen dari target dipengaruhi oleh penurunan importasi komoditas yang memiliki tarif bea masuk tinggi. Kemudian penerimaan bea keluar Rp 270 miliar atau 229,9 persen dari target dipengaruhi oleh tingginya volume ekspor produk turunan crude palm oil (CPO),” pungkasnya. (mus/opi)
Editor : Nofilawati Anisa