Industri & Perdagangan Infrastruktur Otomotif Perbankan & Keuangan Person of The Year Properti Transportasi & Logistik Wisata & Kuliner

Sesuaikan Tingkat Bunga Penjaminan di Bank Umum dan BPR, Begini Pertimbangan LPS

Nofilawati Anisa • Rabu, 28 Mei 2025 | 14:21 WIB

 

KINERJA: Ketua Dewan Komisioner LPS Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan mengenai penetapan TBP di Jakarta, Selasa (27/5/2025).
KINERJA: Ketua Dewan Komisioner LPS Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan mengenai penetapan TBP di Jakarta, Selasa (27/5/2025).

RADAR SURABAYA BISNIS – Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menurunkan Tingkat Bunga Penjaminan (TBP) simpanan dalam rupiah di bank umum dan bank perekonomian rakyat sebesar 25 bps.

LPS juga memutuskan untuk mempertahankan TBP simpanan dalam valuta asing di bank umum.

TBP simpanan rupiah pada bank umum adalah 4,00 persen dan TBP simpanan rupiah pada BPR menjadi 6,50 persen.

Sedangkan untuk TBP simpanan valas pada bank umum sebesar 2,25 persen.

TBP tersebut akan berlaku untuk periode 1 Juni sampai dengan 30 September 2025.

Ketua Dewan Komisioner LPS Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan, penetapan TBP antara lain didasari oleh kinerja ekonomi lintas negara yang dibayangi ketidakpastian dari kebijakan perdagangan dan masih berlangsungnya negosiasi tarif.

Kemudian, laju pertumbuhan ekonomi lintas negara pada triwulan I/2025 cenderung divergen, sementara tingkat inflasi yang mulai melandai rentan meningkat akibat eskalasi perang tarif.

“Mayoritas bank sentral global melakukan antisipasi melalui pemangkasan suku bunga untuk menjaga pemulihan ekonomi. Pada saat yang sama, dinamika perkembangan ekonomi dan adanya pergeseran ekspektasi investor terhadap penurunan suku bunga kebijakan memicu peningkatan volatilitas di pasar keuangan global,” kata Purbaya dalam konferensi pers yang dihelat secara online dan offline di Jakarta, Selasa (27/5/2025).

Dia juga menjelaskan mengenai, kinerja ekonomi domestik masih relatif solid namun tetap perlu diperkuat di tengah meningkatnya risiko ketidakpastian.

Di triwulan I/2025, ekonomi domestik tumbuh 4,87 persen (yoy).

Aktivitas manufaktur dan indeks penjualan ritel berada pada fase normalisasi pasca-Idulfitri.

Sementara itu, pasar keuangan domestik mulai mencatatkan inflow di sepanjang bulan Mei 2025, mencerminkan persepsi investor yang masih positif terhadap prospek ekonomi Indonesia.

“Ke depan, sinergi lintas stakeholder tetap perlu diperkuat untuk mendorong kinerja perekonomian,” tambahnya.

Dia juga menyampaikan beberapa perkembangan positif terkini yaitu kinerja intermediasi perbankan masih dalam tren positif, diikuti ketahanan permodalan dan likuiditas yang relatif memadai.
Per April 2025, kredit perbankan tumbuh sebesar 8,88 persen secara yoy, sedangkan dana pihak ketiga (DPK) tumbuh sebesar 4,55 persen secara yoy.

Pertumbuhan kredit investasi mengalami pertumbuhan tertinggi, yakni sebesar 15,2 persen (yoy).

Sementara itu, penghimpunan DPK ditopang oleh produk giro dan tabungan yang masing-masing tumbuh 6,02 persen dan 6,05 persen (yoy).

Kemudian, ketahanan permodalan pun tetap solid sebagai buffer risiko pasar dan kredit.

Rasio permodalan (KPMM) industri terjaga di level 25,43 persen pada periode Maret 2025.

Sementara itu, pada April 2025, kondisi likuiditas masih relatif memadai dengan rasio AL/NCD berada di level 111,32 persen (threshold: 50,0 persen) dan rasio AL/DPK sebesar 25,23 persen (threshold: 10 persen).

Terjaganya tingkat permodalan juga diikuti dengan perbaikan aspek pengelolaan risiko kredit.

Hal ini tercermin dari rasio Non Performing Loan (NPL) yang terkendali pada level 2,24 persen dan rasio Loan at Risk (LaR) yang terus turun dan berada di level 9,92 persen dari total penyaluran kredit pada periode April 2025. (opi)

Editor : Nofilawati Anisa
#rupiah #ekonomi #kinerja #lembaga penjamin simpanan #tingkat bunga penjaminan #TBP #Purbaya Yudhi Sadewa #bank umum #lps #bpr #simpanan #valas