RADAR SURABAYA BISNIS - Nilai tukar rupiah pada pembukaan perdagangan hari Jumat (11/4/2025) pagi, menguat sebesar 18 poin atau 0,11 persen menjadi Rp 16.805 per dolar AS dari sebelumnya Rp 16.823 per dolar AS USD).
Mengutip laman CNBC, untuk indeks dolar AS (DXY) mengalami penurunan 0,67 persen ke posisi 100,22.
Sudah dua hari ini the greenback turun terus, kembali ke level terendah sejak September 2024.
Penguatan rupiah terjadi seiring dengan tekanan the greenback yang kian mereda.
Penurunan DXY ditengarai inflasi AS yang kian melandai.
Pada Kamis malam kemarin, tercatat tingkat inflasi tahunan di AS mereda untuk bulan kedua berturut-turut menjadi 2,4 persen (year on year /yoy) pada Maret 2025.
Level terendah sejak September 2023, turun dari 2,8 persen pada Februari 2025, dan juga lebih rendah dari perkiraan sebesar 2,6 persen.
Di sisi lain, sentimen terhadap gejolak tarif impor Presiden AS Donald Trump mulai mereda setelah diputuskan menunda yang lebih tinggi selama 90 hari untuk sebagian besar negara.
Sebuah pembalikan mengejutkan dalam perang dagangnya yang telah mengguncang pasar secara drastis.
Dalam sebuah unggahan di platform X sekitar pukul 13.30 waktu setempat, Trump menulis bahwa ia mengambil keputusan tersebut karena lebih dari 75 mitra dagang tidak melakukan pembalasan dan telah menghubungi AS untuk "membahas" beberapa isu yang telah ia angkat sebelumnya.
Namun, penundaan tersebut tidak berlaku untuk China, yang telah melakukan pembalasan-dengan menaikkan tarif hingga 84 persen. (nis/opi)
Editor : Nofilawati Anisa