RADAR SURABAYA BISNIS - Nilai tukar rupiah ditutup di level Rp 16.823 per dolar Amerika Serikat (AS), Kamis (10/4/2025).
Rupiah hari ini ditutup naik 48 poin atau plus 0,29 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya.
Itu artinya rupiah semakin jauh dari level Rp 17.000, seperti yang terjadi pada perdagangan Selasa (8/4/2025).
Sedangkan kurs referensi Bank Indonesia (BI) Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) menempatkan rupiah ke posisi Rp 16.779 per dolar AS pada perdagangan hari ini.
Mata uang Asia bervariasi. Baht Thailand turun 0,26 persen, yuan China plus 0,04 persen, peso Filipina naik 0,6 persen, yen Jepang naik 0,96 persen, dan ringgit Malaysia menguat 0,67 persen.
Sedangkan mata uang negara maju mayoritas menguat. Poundsterling Inggris plus 0,38 persen, euro Eropa plus 0,69 persen, dan franc Swiss plus 0,78 persen.
Analis Mata Uang Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan rupiah menguat terhadap dolar AS di tengah euforia pasar global atas penundaan tarif oleh Presiden AS Donald Trump.
"Namun tensi dagang yang justru meningkat antara AS dan China membatasi penguatan yang lebih lanjut," kata Lukman.
Pengamat mata uang sekaligus Direktur Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuabi menilai penguatan nilai tukar (kurs) rupiah dipengaruhi ekspektasi resesi Amerika Serikat (AS) mereda.
“Pasar mengurangi beberapa ekspektasi untuk resesi AS. Namun, prospek ekonomi jangka pendek tetap tidak pasti, dengan risalah rapat Federal Reserve bulan Maret menunjukkan para pembuat kebijakan gelisah atas inflasi yang lebih tinggi dan pertumbuhan yang lebih lambat,” ujarnya dalam keterangan tertulis di Jakarta.
Kekhawatiran terhadap resesi AS yang mereda dipengaruhi pengumuman Presiden AS Donald Trump terkait 75 negara lain akan diberikan penangguhan pemberlakuan kebijakan tarif selama 90 hari dari tenggat waktu Rabu (9/4/2025).
Sebelumnya, mereka dijadwalkan akan dikenakan tarif lebih tinggi dari batas dasar 10 persen--bahkan dalam beberapa kasus, tarifnya bisa jauh lebih tinggi.
Trump mengatakan penangguhan itu diberikan, karena negara-negara tersebut telah menghubungi mitra mereka di AS untuk mencari solusi terkait isu-isu perdagangan, hambatan dagang, tarif, manipulasi mata uang, dan tarif non-moneter.
Presiden AS juga menambahkan bahwa negara-negara tersebut tidak melakukan tindakan balasan terhadap AS “dalam bentuk apa pun.”
“Sementara kekhawatiran akan resesi mereda setelah Trump mengumumkan perpanjangan 90 hari untuk memberlakukan putaran tarif timbal balik terbarunya, pasar masih tetap waspada terhadap agenda kebijakannya, terutama mengingat perubahan sikapnya baru-baru ini terkait tarif. Perang dagang yang meningkat dengan Tiongkok, juga menghadirkan hambatan ekonomi yang berkelanjutan bagi AS, mengingat negara tersebut masih menjadi mitra dagang utama,” ujar Ibrahim.
Perang dagang memanas pasca Trump menaikkan tarif impor terhadap produk-produk asal Negeri Tirai Bambu menjadi 125 persen, seiring China mengenakan tarif sebesar 84 persen terhadap barang-barang dari AS.
“Baik Washington maupun Beijing tidak menunjukkan niat untuk meredakan ketegangan, dengan pejabat Tiongkok bersumpah untuk berjuang sampai akhir,” kata dia. (ara/opi)
Editor : Nofilawati Anisa