Industri & Perdagangan Infrastruktur Otomotif Perbankan & Keuangan Person of The Year Properti Transportasi & Logistik Wisata & Kuliner

Intervensi BI Hari Ini Bangkitkan Rupiah ke Level Rp 16.872,5

Nofilawati Anisa • Kamis, 10 April 2025 | 00:45 WIB
HITUNG: Seorang karyawan money changer meneliti setiap lembaran rupiah yang akan ditukarkan dengan dolar Amerika Serikat.
HITUNG: Seorang karyawan money changer meneliti setiap lembaran rupiah yang akan ditukarkan dengan dolar Amerika Serikat.

RADAR SURABAYA BISNIS – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) ditutup menguat ke posisi Rp 16.872,5 pada perdagangan Rabu (9/4/2025).

Pada saat bersamaan, Rabu (9/4/2025), dolar AS terpantau melemah.

Mengutip Bloomberg, rupiah ditutup menguat sebesar 18,50 poin atau 0,11 persen ke level Rp 16.872,5 per dolar AS. Adapun indeks dolar AS melemah 0,56 persen menuju 102,37.

Sehari sebelumnya, Selasa (8/4/2025), rupiah sempat tergelincir hingga di atas Rp 17.000 per dolar AS.

Sementara itu, mata uang di Asia kemarin ditutup bervariasi.

Yen Jepang menguat sebesar 0,46 persen bersama won Korea sebesar 0,39 persen.

Sementara itu, yuan China dan ringgit Malaysia melemah dengan persentase masing-masing 0,12 persen dan 0,11 persen.

Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi mengatakan, pasar kemarin sempat goyah setelah Presiden AS Donald Trump kembali menaikkan tarif impor terhadap sejumlah negara, termasuk Indonesia.

“Tarif sebesar 32 persen dikenakan terhadap produk asal Indonesia, sebagai bagian dari kebijakan dagang yang lebih luas dan agresif,” ungkapnya, Rabu (9/4/2025).

Adapun kebijakan tarif timbal balik dari AS tersebut mulai berlaku pada pukul 00.01 ET (04.01 GMT) Rabu.

Sehari sebelumnya, Trump menandatangani perintah baru yang mengenakan tarif tambahan sebesar 50 persen terhadap China, sehingga total beban tarif kumulatif dari AS ke negara tersebut kini mencapai 104 persen.

Angka ini jauh melebihi ancaman awal sebesar 60 persen yang sempat disampaikan selama kampanye tahun lalu.

“Kenaikan 50 persen tersebut merupakan balasan atas pengenaan tarif balasan sebesar 34 persen oleh China terhadap AS minggu lalu,” sambungnya.

Sementara itu, dia menambahkan bahwa Bank Sentral China (PBOC) mulai melonggarkan kontrol terhadap yuan sebagai upaya untuk mendorong daya saing ekspor mereka.

Strategi ini dinilai penting untuk menopang ekonomi Tiongkok dalam menghadapi tekanan dari perang dagang yang semakin memburuk.

“China sejauh ini tidak menunjukkan niat untuk mundur, dengan Kementerian Perdagangan berjanji untuk berjuang sampai akhir dengan AS atas peningkatan tarifnya. Pasar juga berspekulasi bahwa China membuang kepemilikan yang besar atas obligasi pemerintah AS, yang menyebabkan lonjakan besar dalam imbal hasil,” ungkap Ibrahim.

Dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) terus melakukan intervensi di pasar keuangan domestik guna menjaga stabilitas rupiah.

Langkah ini mencakup pasar valas (DNDF), obligasi, dan repo yang diharapkan dapat menahan volatilitas rupiah.

Ibrahim menyebut intervensi tersebut membuat mata uang Indonesia stabil kembali.

“Guna menenangkan pasar Bank Indonesia terus melakukan triple intervensi di perdagangan DNDF (Domestic Non Deliverable Forward) yaitu pasar valas, obligasi, dan repo, sehingga pelemahan rupiah bisa diantisipasi secara kontinyu (dan) rupiah kembali stabil, walaupun pasar global sedang tidak baik-baik saja,” katanya.

Triple intervention atau tiga intervensi tersebut antara lain intervensi di pasar valuta asing (valas) pada transaksi spot dan DNDF, serta Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.

Optimalisasi instrumen triple intervention dalam rangka memastikan kecukupan likuiditas valas untuk kebutuhan perbankan dan dunia usaha serta menjaga keyakinan pelaku pasar.

Selain itu, sentimen lain terhadap kurs rupiah berasal dari laporan Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencatatkan perekonomian Indonesia mengalami inflasi 1,03 persen secara tahunan atau year-on-year (yoy) pada Maret 2025.

Secara year-on-year (yoy), pada Maret 2025 terjadi inflasi sebesar 1,03 persen, atau terjadi kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 106,13 pada Maret 2024 menjadi 107,22 pada Maret 2025. (eti/opi)

 

Editor : Nofilawati Anisa
#Tarif Timbal Balik #dolar amerika serikat #nilai tukar rupiah #mata uang asia #amerika serikat #Rupiah hari ini #ibrahim assuaibi #bloomberg