Industri & Perdagangan Infrastruktur Otomotif Perbankan & Keuangan Person of The Year Properti Transportasi & Logistik Wisata & Kuliner

Pengamat Sebut Kurs Rupiah di Google jadi Rp 8.170,65, Diduga karena Serangan Peretas

Nofilawati Anisa • Minggu, 2 Februari 2025 | 03:15 WIB

 

ILUSTRASI: Karyawan salah satu money changer menunjukkan uang pecahan dolar AS dan rupiah.
ILUSTRASI: Karyawan salah satu money changer menunjukkan uang pecahan dolar AS dan rupiah.

RADAR SURABAYA BISNIS – Google membuat heboh. Nilai tukar rupiah hari ini, Sabtu (1/2/2025), di Google Finance tercatat Rp 8.170,65 per dolar Amerika Serikat (USD).

Penguatan rupiah ini jelas berbanding terbalik pada saat perdagangan, Jumat (31/1/2025), yang ditutup melemah.

Kemarin, rupiah ditutup melemah 40 poin atau 0,25 persen menjadi Rp 16.297 per USD.

Dilansir dari Antara, pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menduga data nilai tukar (kurs) rupiah sebesar Rp 8.170,65 per USD pada tampilan Google merupakan serangan peretas (hacker).

Dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu (1/2/2025), Ibrahim berpendapat para peretas mempermainkan nilai tukar rupiah sebagai ekspresi kekecewaan mereka.

Asumsi itu mempertimbangkan target Presiden Prabowo Subianto yang ingin mengejar pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen.

Menurut Ibrahim, data kurs rupiah pada Google itu adalah cara peretas menunjukkan bahwa rupiah bisa bernilai Rp 8.000 jika pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2025 mencapai 8 persen.

Padahal, terdapat perbedaan prediksi dari berbagai pihak. Bank Indonesia (BI) memperkirakan pertumbuhan ekonomi hanya di kisaran 4,8 persen-5,1 persen, sedangkan Kementerian Keuangan memproyeksikan 5,2 persen.

BI juga sempat merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 3,3 persen.

Sementara itu, kondisi ekonomi kelas menengah ke bawah masih menghadapi berbagai tantangan, terutama terkait risiko adanya lonjakan pengangguran.

Di sisi lain, program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang tersentralisasi dikhawatirkan tidak optimal dalam mendorong pertumbuhan ekonomi. Jika konsumsi masyarakat meningkat tetapi investasi stagnan, maka ekonomi sulit untuk tumbuh signifikan.

Dari segi perekonomian global, kebijakan Presiden AS Donald Trump dikhawatirkan akan mempengaruhi kinerja perekonomian Indonesia.

Pada bulan Januari dan Februari, diperkirakan akan terjadi perang dagang antara AS dengan Tiongkok, Eropa, Kanada, dan Meksiko. Selain itu, Trump juga mengancam akan memberikan denda 100 persen kepada negara-negara anggota BRICS yang tidak menggunakan dolar AS dalam perdagangan internasional.

Terlebih, Federal Reserve memutuskan untuk tetap mempertahankan suku bunga meski Trump meminta mereka melakukan penyesuaian.

Berbagai gejolak ekonomi itu kemungkinan besar menjadi pemicu kurs rupiah dipermainkan oleh peretas.

"Ini kemungkinan besar hanya sesaat, di hari Senin sudah kembali normal," ujar Ibrahim. (ara/opi)

 

Editor : Nofilawati Anisa
#google #peretas #kurs #ibrahim assuaibi #dolar amerika #hacker