Industri & Perdagangan Infrastruktur Otomotif Perbankan & Keuangan Person of The Year Properti Transportasi & Logistik Wisata & Kuliner

Aliran Modal Asing Keluar pada 13-16 Januari 2025 Sentuh Rp 9,57 Triliun, Berikut Rinciannya

Nofilawati Anisa • Senin, 20 Januari 2025 | 00:04 WIB
ILUSTRASI
ILUSTRASI

RADAR SURABAYA BISNIS - Bank Indonesia (BI) menyebutkan aliran modal asing keluar pada 13 hingga 16 Januari 2025 sebesar Rp 9,57 triliun.

Aliran modal asing itu dengan aksi beli di pasar saham mencapai Rp 0,01 triliun.

Namun, ada aksi jual di pasar Surat Berharga Negara (SBN) senilai Rp 4,17 triliun dan Sekuritas Rupiah BI (SRBI) sebesar Rp 5,41 triliun.

Sepanjang 2025, berdasarkan data setelmen hingga 16 Januari, aliran modal asing yang keluar mencapai Rp 2,63 triliun di pasar saham.

Lalu di pasar SBN, aksi jual asing tercatat Rp 0,59 triliun dan aksi beli di SRBI sebesar Rp 5,84 triliun.

Sementara itu, premi credit default swap (CDS) Indonesia atau premi risiko investasi lima tahun per 16 Januari 2025 sebesar 75,06 basis poin (bps), turun dibandingkan dengan 10 Januari sebesar 79,88 bps.

Pada Jumat (17/1/2025), imbal hasil SBN bertenor 10 tahun turun ke 7,13 persen.

Sedangkan pada Kamis (16/1/2025), SBN bertenor 10 tahun naik ke 7,17 persen dan imbal hasil UST atau US treasury note bertenor 10 tahun turun ke 4,613 persen.

"Bank Indonesia terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah dan otoritas terkait serta mengoptimalkan strategi bauran kebijakan untuk mendukung ketahanan eksternal ekonomi Indonesia,” ujar Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso dalam keterangan resminya, Sabtu (18/1/2025).

Sebelumnya, pada 15 Januari 2025, BI memutuskan menurunkan suku bunga acuan sebesar 25 bps menjadi 5,75 persen.

Keputusan ini menandai penurunan pertama suku bunga BI pada 2025.

Gubernur BI, Perry Warjiyo menuturkan, pemangkasan suku bunga acuan diputuskan sesuai dengan pandangan bank sentral yang 'pro stability dan pro growth'.

Penurunan tersebut juga sejalan dengan masih terbukanya ruang penurunan suku bunga.

"Waktunya tentu saja (pangkas suku bunga) sesuai dengan dinamika yang terjadi di global dan internasional, Dan itu terus kami terus ulang-ulang dari bulan ke bulan," ujar Perry dalam konferensi pers Rapat Dewan Gubernur BI, Rabu (15/1/2025).

Perry lebih lanjut mengatakan, pihaknya terus memperhatikan arah kebijakan yang ditempuh bank sentral Amerika Setikat terhadap Fed Fund Rate (FFR).

"Hal itu yang kemudian menjelaskan kepada kita ada ruang ada kita manfaatkan tapi karena arah pemerintahan AS setelah Pemilihan Presiden Trump dan arah kebijakan FFR," tutur dia.

"Bulan ini uncertainty masih ada tapi kami bisa menakar arah kebijakan fiskal AS sudah mulai kelihatan dan besarnya dampak terhadap kenaikan US Treasury," Perry menambahkan.

Sementara dari sisi domestik, BI melihat inflasi Indonesia masih cukup rendah dan akan bertahan selama beberapa waktu ke depan.

Jika inflasi rendah, ruang penurunan suku bunga semakin terbuka ke depan.

Selain itu, BI juga mencermati perkembangan nilai tukar rupiah yang tetap stabil dan sejalan dengan nilai fundamentalnya.

BI juga mengantisipasi kemungkinan pertumbuhan ekonomi yang lebih rendah tahun ini.

Pelemahan ekonomi Indonesia bahkan tercatat pada kuartal terakhir 2024.

"(Pertumbuhan ekonomi) 2024 sedikit lebih rendah dari 5 persen tapi di atas 5,1 persen. Tahun 2025, yang titik tengahnya 5,2 persen itu lebih rendah jadi 4,7 persen hingga 5,5 persen.

Ini menjadikan timing untuk penurunan suku bunga untuk menciptakan growth story yang lebih baik," beber Perry. (uta/opi)

 

Editor : Nofilawati Anisa
#Surat Berharga Negara (SBN) #aliran #bank indonesia #modal asing #pasar saham