Industri & Perdagangan Infrastruktur Otomotif Perbankan & Keuangan Person of The Year Properti Transportasi & Logistik Wisata & Kuliner

Angka Penetrasi Asuransi di Indonesia Masih Rendah, Belum Sebanding dengan Angka Literasi dan Inklusi Asuransi

Nofilawati Anisa • Senin, 16 Desember 2024 | 04:43 WIB

 

SERIUS: Business Development Advisor BEI Poltak Hotradero dalam diskusi media bertema Economy Outlook 2025: How Insurance & Media Industry Navigate the Uncertainty yang dihelat Allianz Indonesia.
SERIUS: Business Development Advisor BEI Poltak Hotradero dalam diskusi media bertema Economy Outlook 2025: How Insurance & Media Industry Navigate the Uncertainty yang dihelat Allianz Indonesia.

RADAR SURABAYA BISNIS - Perjalanan sektor ekonomi menunjukkan tren yang dinamis selama tahun 2024, baik global maupun domestik.

Namun, ketidakpastian di sektor ini juga diprediksi masih akan menjadi bayang-bayang pada tahun 2025.

Business Development Advisor Bursa Efek Indonesia (BEI) Poltak Hotradero mengatakan, tahun 2024, perekonomian global tumbuh sebesar 3,2 persen. Hal ini didukung oleh penurunan inflasi tanpa adanya resesi global yang dapat dianggap sebagai pencapaian yang besar.

Namun, saat ini perekonomian global berada di situasi yang tidak menentu. “Gejolak yang cukup signifikan, seperti konflik geopolitik, beberapa negara besar yang masih berupaya untuk mengembalikan ekonominya yang sempat memburuk, hingga terjebaknya beberapa negara berpenghasilan rendah dalam utang yang cukup besar, terus mempengaruhi pertumbuhan ekonomi,” kata Poltak di diskusi media dengan tema Economy Outlook 2025: How Insurance & Media Industry Navigate the Uncertainty yang dihelat Allianz Indonesia beberapa waktu lalu.

Selain itu, lanjut Poltak, pasca Pemilu AS juga diprediksi akan turut memengaruhi perekonomian global. Mengingat saat ini dunia masih memantau arah kebijakan ekonomi presiden dan wakil presiden AS terpilih.

Poltak memproyeksikan bahwa perekonomian global akan stagnan di angka 3,2 persen. “Saat ini juga sedang terjadi soft landing di mana terjadi perlambatan siklus pertumbuhan ekonomi untuk menghindari resesi,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa saat ini, bank sentral sedang berupaya untuk menaikkan suku bunga secukupnya sehingga dapat menghentikan ekonomi dari inflasi yang tinggi tanpa menyebabkan downturn yang parah.

Sementara itu, kondisi perekonomian nasional diproyeksikan juga akan mengalami ketidakpastian.

Pasalnya, selain terdampak kondisi perekonomian global, berbagai pihak masih menanti kebijakan dari pemerintahan baru walaupun hingga triwulan III/2024 pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap terjaga baik, di tengah peningkatan ketidakpastian pasar keuangan global.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan, pada kuartal tersebut ekonomi Indonesia tercatat tumbuh sebesar 4,95 persen (yoy), setelah sebelumnya mencapai angka 5,05 persen (yoy) dan 5,11 (yoy) yang didorong oleh aktivitas ekonomi musiman, seperti momen Pemilu, Ramadan, Idulfitri, liburan sekolah, hingga acara keagamaan lainnya.

“Walaupun pertumbuhannya terjaga, namun tetap terlihat adanya perlambatan apabila dibandingkan dengan kuartal sebelumnya. Kuartal selanjutnya diperkirakan akan banyak didorong oleh momen Natal dan Tahun Baru. Namun, tetap tidak akan ada kenaikan yang signifikan,” ungkap Poltak.

Menurutnya, ketidakpastian ekonomi cukup memunculkan kebingungan dan berdampak pada masyarakat.

Maka tak heran apabila terjadi peningkatan harga pada bahan pokok, BBM, gas elpiji serta rumor kenaikan iuran tarif BPJS, hingga tarif transportasi yang menyebabkan masyarakat menjadi kurang tertarik untuk melakukan spending.

Menurut data Purchasing Managers Index (PMI), sektor manufaktur Indonesia hingga Juli 2024 turun ke level 49,7 yang mana menjadi tanda bahwa ekonomi Indonesia sedang lesu. Ini adalah level terendah sejak Agustus 2021.

Di sisi lain, tingkat pengangguran juga meningkat dikarenakan gelombang PHK yang semakin besar.

Hal ini terjadi karena perusahaan dari berbagai industri sedang mengalami deflasi karena daya beli masyarakat yang lesu.

Dari permasalahan-permasalahan tersebut kelompok masyarakat yang cukup terdampak adalah kelas menengah.

Padahal, masyarakat kelas menengah memiliki kontribusi yang esensial untuk daya tahan perekonomian.

Di akhir sesinya, Poltak menyarankan masyarakat untuk selalu menjaga cash flow supaya tetap sehat, tidak menumpuk terlalu banyak utang, memiliki dana darurat dan aset lancar
yang cukup, tetap memiliki investasi walaupun sedang di masa-masa yang sulit, dan memiliki proteksi yang tepat, seperti BPJS maupun asuransi swasta.

Himawan Purnama, Country Chief Product Officer Allianz Life Indonesia, menjelaskan bahwa pihaknya juga memahami adanya ketidakpastian ekonomi dalam negeri maupun global yang akan terjadi pada tahun 2025.

Menurunnya daya beli masyarakat serta kesadaran akan pentingnya asuransi, juga terlihat pada angka penetrasi asuransi yang masih rendah, yakni sebesar 2,8 persen (per September 2024).

Yang mana belum sebanding dengan angka literasi dan inklusi asuransi yang sudah mencapai 76,25 persen dan 12,21 persen.

“Sebagai perusahaan penyedia layanan asuransi, Allianz Indonesia berkomitmen untuk terus beradaptasi dengan situasi terkini,” ujar Himawan. (ara/opi)

Editor : Nofilawati Anisa
#allianz indonesia #Economy Outlook 2025 #bursa efek indonesia #inklusi keuangan #penetrasi asuransi