SURABAYA - Kepala Kantor Perwakilan Kementerian Keuangan Provinsi Jawa Timur Sigit Danang Joyo menyampaikan bahwa kinerja ekonomi Jawa Timur tetap terjaga, dengan pertumbuhan yang terakselerasi di triwulan III/2024 sebesar 4,91 persen year on year (yoy).
Pertumbuhan ekonomi Jawa Timur di sembilan bulan pertama di tahun 2024 itu didorong oleh peningkatan ekspor dan tingginya permintaan domestik.
“Tingkat kemiskinan sebesar 9,79 persen Jawa Timur menurun 0,56 persen jika dibandingkan periode Maret 2023. Angka prevelansi stunting Jawa Timur tahun 2024 sebesar 6,10 persen lebih rendah dari target yang ditetapkan sebesar 14 persen,” ujarnya, Jumat (7/11).
Sigit yang juga Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Jawa Timur I menambahkan untuk Pendapatan Negara sampai 31 Oktober 2024 sebanyak Rp 211,65 triliun.
Angka itu mencakup Pendapatan Pajak Rp 96,96 triliun, Bea Cukai Rp 107,93 triliun, serta Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) Rp 6,76 Triliun.
Menurutnya penerimaan pajak per Oktober 2024 mencapai Rp 96,96 triliun tumbuh sebesar 7,79 persen (yoy) dengan capaian 74,51 persen dari target APBN 2024.
“Di Jawa Timur, PPN dan PPnBM berkontribusi pada penerimaan sebesar 59,68 persen dan PPH Nonmigas sebesar 39,35 persen,” katanya.
Kemudian, lanjut Sigit, penerimaan pajak dari sektor jasa keuangan dan asuransi tumbuh paling tinggi sebesar 33 persen (yoy) seiring dengan peningkatan kredit, dana pihak ketiga, dan suku bunga.
Penerimaan kepabeanan dan cukai per Oktober 2024 sebesar Rp 107,93 triliun atau 71,01 persen dari target APBN.
“Yakni tumbuh 2,21 persen (yoy) didorong oleh pertumbuhan penerimaan bea masuk dan cukai,” jelas Sigit.
Untuk pendapatan bea masuk tercatat sebesar Rp 5,5 triliun atau 12,18 persen (yoy).
Capaian itu dipengaruhi oleh kenaikan nilai impor, kenaikan jumlah dokumen PIB, serta penguatan nilai tukar USD terhadap rupiah.
Untuk penerimaan cukai sebesar Rp 102,33 triliun atau 1,77 persen (yoy) dipengaruhi oleh tumbuhnya produksi perusahaan hasil tembakau dan produksi hasil tembakaunya.
“Produksi rokok sampai dengan Oktober 2024 tumbuh sebesar 1,8 miliar batang atau setara 1,77 persen (yoy). Realisasi Belanja Negara sebanyak Rp 110,35 triliun terdiri dari Belanja Kementerian/Lembaga Rp 39,56 triliun dan Belanja Transfer ke Daerah Rp 70,79 triliun,” pungkas Sigit. (mus/opi)
Editor : Nofilawati Anisa