Industri & Perdagangan Infrastruktur Otomotif Perbankan & Keuangan Person of The Year Properti Transportasi & Logistik Wisata & Kuliner

Utang Luar Negeri Indonesia per Agustus 2024 Bengkak 7,3 Persen jadi Rp 6.589 Triliun

Nofilawati Anisa • Senin, 14 Oktober 2024 | 22:17 WIB
ILUSTRASI
ILUSTRASI

JAKARTA – Bank Indonesia (BI) mencatat Utang Luar Negeri (ULN) nasional pada Agustus 2024 tercatat sebesar USD 425,1 miliar atau sekitar Rp 6.589,2 triliun (asumsi Rp 15.500 per USD).

Nilai utang tersebut secara tahunan mengalami kenaikan 7,3 persen.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso mengatakan, perkembangan ULN tersebut bersumber dari sektor publik dan sektor swasta.

“Posisi ULN Agustus 2024 juga dipengaruhi oleh faktor pelemahan mata uang USD terhadap mayoritas mata uang global, termasuk rupiah,” ungkap Ramdan dalam keterangan resminya, Senin (14/10) .

Ia menyebut jika, ULN pemerintah tetap terkendali. Posisi ULN pemerintah pada Agustus 2024 sebesar USD 200,4 miliar atau sekitar Rp 3.106,2 triliun.

Angka tersebut tumbuh sebesar 4,6 persen (year on year/yoy), lebih tinggi dari pertumbuhan pada Juli 2024 sebesar 0,6 persem (yoy).

“Perkembangan ULN tersebut terutama dipengaruhi oleh peningkatan aliran masuk modal asing pada Surat Berharga Negara (SBN) domestik, seiring dengan semakin terjaganya kepercayaan investor terhadap prospek perekonomian Indonesia,” ungkapnya.

Sebagai salah satu instrumen pembiayaan APBN, Ramdan menjelaskan, pemanfaatan ULN terus diarahkan untuk mendukung pembiayaan sektor produktif.

Serta belanja prioritas guna menjaga momentum pertumbuhan ekonomi.

“ULN pemerintah tetap dikelola secara hati-hati, kredibel, dan akuntabel untuk mendukung belanja,” tandasnya.

Ramdan mengatakan, prioritas yang dimaksud antara lain pada Sektor Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial sebesar 20,9 persen dari total ULN pemerintah; Administrasi Pemerintah, Pertahanan, dan Jaminan Sosial Wajib (18,9 persen); Jasa Pendidikan (16,8 persen); Konstruksi (13,6 persen); serta Jasa Keuangan dan Asuransi (9,3 persen).

“Posisi ULN pemerintah tetap terkendali mengingat hampir seluruh ULN memiliki tenor jangka panjang dengan pangsa mencapai 99,9 persen dari total ULN pemerintah” jelas Ramdan.

Ia menyebut jika ULN swasta juga tetap terkendali. Pada Agustus 2024, posisi ULN swasta tercatat sebesar USD 197,8 miliar atau setara Rp 3.065,9 triliun.

Angka ini tumbuh sebesar 1,3 persen (yoy), sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan pada Juli 2024 sebesar 0,5 persen (yoy).

“Perkembangan ULN tersebut terutama didorong oleh ULN perusahaan bukan lembaga keuangan (nonfinancial corporations) yang mencatatkan pertumbuhan 1,6 persen (yoy),” katanya.

Berdasarkan sektor ekonomi, Ramdan menjelaskan ULN swasta terbesar berasal dari Sektor Industri Pengolahan; Jasa Keuangan dan Asuransi; Pengadaan Listrik dan Gas; serta Pertambangan dan Penggalian, dengan pangsa mencapai 79,3 persen dari total ULN swasta. ULN swasta juga tetap didominasi oleh ULN jangka panjang dengan pangsa mencapai 75,5 persem terhadap total ULN swasta.

“Struktur ULN Indonesia tetap sehat, didukung oleh penerapan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaannya,” tegasnya.

Menurut Ramdan pernyataannya itu tecermin dari rasio ULN Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang terjaga sebesar 31,0 persen.

Serta didominasi oleh ULN jangka panjang dengan pangsa mencapai 84,3 persen dari total ULN.

“Dalam rangka menjaga agar struktur ULN tetap sehat, Bank Indonesia dan pemerintah terus memperkuat koordinasi dalam pemantauan perkembangan ULN. Peran ULN juga akan terus dioptimalkan untuk menopang pembiayaan pembangunan dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan. Upaya tersebut dilakukan dengan meminimalkan risiko yang dapat memengaruhi stabilitas perekonomian,” pungkasnya. (opi)

 

Editor : Nofilawati Anisa
#utang luar negeri dipakai untuk apa #pembangunan #utang luar negeri indonesia #utang pemerintah #pembiayaan #pertumbuhan ekonomi #utang swasta