Industri & Perdagangan Infrastruktur Otomotif Perbankan & Keuangan Person of The Year Properti Transportasi & Logistik Wisata & Kuliner

Satu Tahun Bursa Karbon Indonesia, Bagaimana Perkembangannya? Berikut Penjelasan Bursa Efek Indonesia

Nofilawati Anisa • Minggu, 6 Oktober 2024 | 05:05 WIB

 

PRESTASI: Suasana diluncurkannya Bursa Karbon Indonesia oleh Presiden Joko Widodo di kantor BEI Jakarta, 26 September tahun lalu.
PRESTASI: Suasana diluncurkannya Bursa Karbon Indonesia oleh Presiden Joko Widodo di kantor BEI Jakarta, 26 September tahun lalu.

JAKARTA - Tanggal 26 September 2024 menandai satu tahun lahir dan beroperasinya Bursa Karbon Indonesia atau IDXCarbon yang telah menorehkan pencapaian positif.

Selama tahun pertama beroperasi, sejak 26 September 2023, IDXCarbon mencatatkan kenaikan jumlah Sertifikat Pengurangan Emisi Gas Rumah Kaca (SPE-GRK) yang diperdagangkan dari 459.953 ton CO2e menjadi sebesar 613.894 ton CO2e, dengan nilai transaksi meningkat dari Rp 29,21 miliar menjadi Rp 37,06 miliar.

Dari jumlah volume transaksi tersebut, sebanyak total 420.029 ton CO2e telah digunakan (dilakukan retirement).

Hal ini menunjukkan mulai meningkatnya kesadaran dan pemahaman masyarakat tentang perdagangan karbon serta perannya dalam upaya melawan perubahan iklim.

Selain itu, saat ini telah terdapat tiga proyek SPE-GRK yang telah dicatatkan di IDXCarbon, yaitu proyek Pertamina Geothermal Lahendong, PLTGU di Muara Karang milik PLN, dan PLTM di Gunung Wugul milik grup PLN.

Dengan hadirnya proyek-proyek tersebut, unit karbon yang dicatatkan bertumbuh dari 842.950 ton CO2e pada 26 September 2023 menjadi 1.777.141 ton CO2e pada 26 September 2024, dengan jumlah unit karbon tersedia setelah retirement sebanyak 1.357.112 ton CO2e.

Dalam periode yang sama, jumlah pengguna jasa juga bertumbuh cukup signifikan dari hanya 16 Pengguna Jasa di hari peluncuran menjadi 81 Pengguna Jasa.

Untuk memperingati satu tahun beroperasinya IDXCarbon, Kamis (3/10) diselenggarakan seremoni bertempat di Main Hall PT Bursa Efek Indonesia (BEI).

Direktur Utama BEI Iman Rachman mengapresiasi sinergi yang terjalin antara Kementerian dan Lembaga, Otoritas, maupun Perusahaan yang telah menjadi pengguna jasa dan calon pengguna jasa Bursa Karbon.

"Kami berharap segala upaya yang dilakukan bersama dapat memberikan manfaat positif bagi perkembangan perdagangan karbon di Indonesia, membantu pencapaian target NDC Indonesia di 2030, dan memastikan kelangsungan bumi yang lebih sehat untuk masa depan yang lebih baik," ungkap Iman.

Selain untuk menyampaikan pencapaian perdagangan karbon di Indonesia selama setahun terakhir, acara ini juga bertujuan untuk menyampaikan komitmen IDXCarbon dalam pengembangan perdagangan karbon di Indonesia.

Seperti perpanjangan periode gratis biaya pendaftaran bagi calon Pengguna Jasa IDXCarbon, pembebasan biaya pencatatan unit karbon, pembebasan biaya membership, dan pembebasan biaya tahunan atau annual fee bagi seluruh Pengguna Jasa IDXCarbon.

Iman menambahkan, ke depannya, BEI akan terus berupaya untuk mendorong likuiditas pasar karbon dari sisi demand dan supply baik pasar domestik maupun internasional sesuai dengan peraturan dan regulasi pemerintah.

Untuk mewujudkan upaya ini, BEI akan senantiasa aktif berkoordinasi dan bersinergi dengan OJK, Kementerian terkait, dan pelaku pasar untuk menyempurnakan mekanisme perdagangan karbon, memberikan edukasi berkelanjutan, menyelaraskan pengembangan investasi Environmental, Social & Governance (ESG) di pasar modal dengan perdagangan karbon, memberikan insentif.

“Serta mengembangkan sistem pelaporan emisi GRK sesuai standar internasional. Melalui sinergi dengan berbagai stakeholders, BEI melalui IDXCarbon optimis perdagangan karbon di Indonesia mampu terus bertumbuh dan membantu Indonesia dalam upaya mencapai target penurunan emisi nasional,” pungkas Iman. (opi)

Editor : Nofilawati Anisa
#IDXCarbon #perdagangan karbon indonesia #Bursa Karbon Indonesia #bursa efek indonesia (bei) #sinergi #pengguna jasa #Pembebasan biaya