SURABAYA - Ratusan mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya, mengikuti talkshow bersama PT Bank Jago Tbk agar sigap dalam menghadapi tantangan finansial dan dunia kerja yang semakin kompleks di era digital.
Talkshow yang berlangsung di Auditorium ITS, Kamis (5/9) ini, mengusung tema "The Future is Yours".
Para mahasiswa diajak untuk menyelami dan mencari solusi dari berbagai permasalahan mendasar anak muda, mulai dari persoalan finansial hingga tantangan berkarir di industri digital.
Para peserta diajak menikmati film yang berjudul " Hidup Selalu Diatur" karya sineas lokal, Ef Loygara sebelum diskusi dimulai.
Film tersebut berkisah tentang seorang pemuda yang sejak kecil selalu diatur oleh ibunya, mulai dari gaya rambut, uang jajan, hingga cita-cita.
“Mungkin tidak sedikit dari kita yang related dengan cerita di film ini (Hidup Selalu Diatur). Termasuk dalam urusan karir dan keuangan,” ujar Nanang Harianto, Head of General Services Bank Jago.
Nanang berkisah soal pengalamannya berkarir di industri perbankan yang tidak terkait langsung dengan latar belakang pendidikannya sebagai alumni Fakultas Teknik Sipil ITS.
Namun, kemauan belajar dan mencoba berbagai hal baru membuatnya lebih percaya diri dalam menghadapi tantangan dunia kerja yang semakin kompetitif.
“Bicara karir dan pekerjaan juga related dengan masalah keuangan. Sejak bekerja di bank, khususnya Bank Jago, saya jadi lebih concern dengan kesehatan finansial," tuturnya.
Nanang juga menjelaskan bahwa kesehatan finansial erat kaitannya dengan empat level kedewasaan keuangan manusia.
Level pertama adalah financial security, yakni aman secara finansial dalam hal membiayai kebutuhan dasar pribadi.
“Seperti aman untuk makan, bayar sewa hunian, atau bayar listrik dan telepon,” ujarnya.
Level kedua adalah financial resilience, yakni memiliki ketahanan keuangan yang lebih baik.
Dalam hal ini penghasilan yang didapat tak hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari hari tetapi juga tersedia dana siaga ketika menghadapi kejadian tak terduga.
“Level berikutnya adalah financial control atau memiliki kendali finansial. Punya penghasilan sendiri sehingga tidak lagi bergantung pada orang lain. Biasanya, mulai punya tabungan jangka panjang,” jelas Nanang.
Level terakhir adalah financial freedom atau memiliki kebebasan secara finansial.
“Pada level ini umumnya masalah finansial sudah teratasi, punya dana pensiun dan dapat membahagiakan orang sekitar,” paparnya.
“Setiap orang punya masalah dan kebutuhan hidup masing-masing, serta punya caranya sendiri untuk mengatur keuangan. Itulah kenapa Aplikasi Jago dengan fitur kantongnya dirancang agar nasabah bisa fleksibel mendesain solusi keuangannya sendiri secara mudah dan seamless. Apa lagi Aplikasi Jago terhubung dengan kekuatan ekosistem digital, seperti Gopay, Gojek, Tokopedia, serta Bibit dan Stockbit,” tutup Nanang.
Sementara itu Employee Branding Engagement Specialist Bank Jago, Dwi Gelegar Gilang Ramadhan, mengatakan bahwa hampir semua pelaku Industri khususnya perbankan, melakukan inovasi produk dan layanan guna memenuhi kebutuhan konsumen di era yang serba digital.
Namun, transformasi bisnis berbasis digital dr Indonesia dihadapkan pada tantangan yang tak mudah, terutama menyangkut kesenjangan antara kebutuhan dan pasokan talenta digital.
“Kalau kita lihat trennya, bukan lagi soal kamu sarjana apa atau tulusan mana. Tapi yang lebih dibutuhkan industri saat ini adalah SDM-SDM yang punya kemampuan berpikir analitis, kreatif, punya daya tahan, serta fleksibilitas dan agie atau mampu beradaptasi terhadap perubahan yang serba cepat,” ungkap Gilang.
Menurut Gilang, Indonesia masih menghadapi tantangan serius dalam menyiapkan lulusan baru untuk memasuki dunia kerja yang semakin kompetitif.
Untuk itu, Bank Jago terpanggil untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman dalam membangun bank berbasis teknologi, dengan membuat program pembelajaran mandiri Jago Digital Academy.
“Saat ini ada lebih dari 50 bidang studi, yang terbagi ke dalam lebih dari 200 modul pembetajaran, yang berfokus pada tiga jalur kemampuan teknis, yaitu Product Management, Engineering, dan Data Science,” tuturnya. (sam/opi)
Editor : Nofilawati Anisa