SURABAYA - Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Jawa Timur Erwin Gunawan Hutapea menyebut pengembangan ekonomi syariah yang masih belum optimal.
Oleh karena itu, pihaknya bersama para pemangku kepentingan terus berupaya memaksimalkan potensi ekonomi syariah di wilayah tersebut.
"Kami di Kpw BI telah merumuskan dan menerbitkan berbagai ketentuan sesuai kewenangan untuk mendukung peningkatan ekonomi syariah, termasuk PLJPS, GWM Syariah, Instrumen Makroprudensial Syariah, serta pengembangan instrumen seperti SukBI, Repo Syariah, dan NCD Syariah," jelasnya, Rabu (4/9).
Dijelaskannya, KPw BI Jatim juga melakukan koordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan untuk mendorong percepatan program ekonomi dan keuangan syariah, termasuk Halal Value Chain, Kurikulum Ekonomi Syariah, serta kampanye publik di tingkat daerah, nasional, dan internasional.
Dalam upaya memajukan ekonomi syariah, BI juga memprakarsai inovasi program seperti Pengembangan Islamic Social Finance dan Pemberdayaan Ekonomi Pesantren.
Peran BI dalam pengembangan ekonomi dan keuangan syariah ini dijabarkan sebagai RAIn yang mencakup tiga peran utama, yaitu Regulator, Akselerator, dan Inisiator.
"Implementasi program ‘RAIn’ dilakukan melalui tiga pendekatan utama: penguatan ekosistem halal, peningkatan literasi dan inklusi keuangan syariah, serta pengembangan gaya hidup halal," jelasnya.
Sementara mengenai one pesantren one product (OPOP), Erwin mengatakan salah satu pondok pesantren (ponpes) yang menjadi contoh dalam kegiatan ini telah berhasil menjalankan berbagai usaha, termasuk menanam padi, menghasilkan beras, serta mengelola proses penggilingan dan pemasaran.
Melalui kegiatan ini, ponpes tersebut mampu memberikan kontribusi nyata dalam mengurangi inflasi pangan dengan menyediakan bahan pokok yang stabil dan berkualitas untuk masyarakat.
Selain itu, ponpes-ponpes lain juga mulai fokus pada penanaman produk hortikultura seperti cabai dan bawang, yang memiliki permintaan tinggi di pasar.
Usaha ini diharapkan dapat membantu mengurangi ketergantungan impor dan menjaga kestabilan harga produk-produk tersebut di pasar domestik.
"Tak hanya di sektor pertanian, pengembangan perikanan air tawar di beberapa ponpes juga menunjukkan potensi besar," pungkasnya.
Beraitan dengan pengembangan ekonomi syariah, KPw BI Jatim akan menggelar Festival Ekonomi Syariah (FESyar) di Masjid Nasional Al Akbar Surabaya, pertengahan September 2024.
Dalam festival ini sejumlah tokoh agama penting akan mengisi acara, seperti Gus Idham yang akan memberikan tausiah dan Habib Syech dengan salawat akbarnya.
Selain itu, penyanyi religi Opick juga akan menghibur dengan lagu-lagu religinya di FESyar 2024 ini. (mus/opi)
Editor : Nofilawati Anisa