RADAR SURABAYA BISNIS – Perekonomian Jatim tumbuh positif melebihi daerah lain. Di triwulan II/2024, dengan pertumbuhan 4,98 persen year on year (yoy), Jatim tercatat sebagai provinsi dengan pertumbuhan ekonomi paling tinggi di Pulau Jawa.
Jatim pun sudah menunjukkan tanda-tanda kebangkitan yang signifikan dalam berbagai sektor ekonomi seusai pandemi Covid-19.
Mulai dari sektor perbankan hingga pasar modal, wilayah ini terus melaju dengan stabilitas yang semakin kuat setelah menghadapi tantangan berat selama pandemi Covid-19.
Direktur Pengawasan Prilaku PUJK Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Regional 4, Dedy Patria menegaskan stabilitas perbankan di Jawa Timur kini berada dalam kondisi yang sangat kuat.
Salah satu indikasinya, dana pihak ketiga di Jatim cukup menggembirakan.
Per Juni 2024 mencapai 7,81 persen. Sedangkan pertumbuhan kredit sebesar 5,3 persen.
“Dari sisi permodalan, sektor perbankan juga masih kuat dengan rasio kecukupan modal di angka 29,95 persen. Hal ini menunjukkan kondisi yang masih terkendali,” ungkap Dedy dalam Media Briefing Triwulan III 2024 bertajuk Penguatan Sinergi untuk Menjaga Stabilitas dan Momentum Peningkatan Kinerja Ekonomi Jatim di Surabaya, Kamis (22/8).
Sedangkan Non-Performing Loan (NPL) di Jawa Timur berhasil dikendalikan pada level 3,24 persen. Hal ini menandakan kualitas kredit yang baik.
Dedy juga menyoroti rasio Loan to Deposit Ratio (LDR) yang membaik, dari 14 persen pada Juni 2023 menjadi 10,57 persen pada tahun ini.
Pencapaian ini menandakan adanya penurunan risiko kredit serta peningkatan efisiensi penggunaan dana.
Likuiditas perbankan juga memadai, dengan Alat Likuid Bersih terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/NCD) berada di angka 93,27 persen, jauh melampaui batas minimal 50 persen.
Sektor perbankan mencatatkan pertumbuhan kredit sebesar 5,30 persen secara keseluruhan.
Sektor transportasi, pergudangan, serta informasi dan komunikasi menunjukkan pertumbuhan tertinggi, yakni mencapai 15,79 persen.
Hal ini mencerminkan kebangkitan sektor-sektor ini pasca pandemi.
"Kami optimistis bahwa tren positif ini akan terus berlanjut pada kuartal selanjutnya pada tahun ini," ujar Dedy.
Dedy meyakinkan bahwa perkembangan di sektor perbankan, UMKM, dan pasar modal Jawa Timur menjadi bukti nyata keberhasilan kebijakan pemerintah dalam mendorong pemulihan ekonomi pasca pandemi.
Dengan stabilitas yang kuat di berbagai sektor, provinsi ini siap melaju menjadi pemain utama dalam perekonomian nasional.
“Jawa Timur akan terus tumbuh sebagai salah satu pusat ekonomi paling dinamis di Indonesia,” tutup Dedy Patria, penuh optimisme.
Dalam kesemoatan yang sama, Kepala Kantor Perwakilan LPS II Surabaya Bambang S. Hidayat mengungkapkan bahwa hingga akhir Juni 2024, LPS berhasil menjamin 99,94 persen dari total rekening nasabah bank umum di Indonesia.
“LPS juga terus melakukan evaluasi terhadap dinamika suku bunga simpanan dan kinerja perbankan untuk menjaga stabilitas sistem keuangan,” sambungnya.
Dari sisi penjaminan simpanan, perbankan jelas Bambang, jumlah rekening nasabah secara nasional yang dijamin seluruh simpanannya oleh LPS hingga akhir Juli 2024 mencapai 99,94 persen dari total rekening atau setara 586.594.941 rekening untuk nasabah bank umum dan sebesar 99,98 peren dari total rekening atau setara 15.719.657 rekening untuk nasabah BPR/BPRS.
LPS secara berkala terus melakukan asesmen dan evaluasi terhadap dinamika suku bunga simpanan, kinerja perbankan, ekonomi dan SSK dalam kaitannya dengan Tingkat Bunga Penjaminan (TBP) sehingga dapat tetap akomodatif dalam mendukung pemulihan ekonomi dan intermediasi perbankan.
Pada periode penetapan reguler Mei 2024, Rapat Dewan Komisioner (RDK) LPS menetapkan untuk mempertahankan Tingkat Bunga Penjaminan (TBP) yaitu 4,25 persen untuk simpanan rupiah di bank umum dan 6,75 persen untuk simpanan rupiah di BPR, serta 2,25 persen untuk simpanan valuta asing (valas) di bank umum.
Sementara itu, Kepala Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Jawa Timur Erwin Gunawan Hutapea mengungkapkan bahwa BI telah memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan BI Rate di angka 6,25 persen.
“Bank Indonesia juga memperkirakan pertumbuhan ekonomi 2024 akan berada di kisaran 4,7-5,5 persen sejalan dengan proyeksi sebelumnya,” ujar Erwin.
Bank Indonesia Jawa Timur mencatat transaksi nontunai di wilayah setempat tumbuh positif.
Erwin menjelaskan transaksi nontunai di Jatim tumbuh sebesar 4,78 persen dengan nominal Rp 377 triliun.
Sedangkan QRIS per Juni 2024 sudah digunakan 3,75 juta merchant atau tumbuh 24 persen (yoy).
"Dominasi merchant QRIS Jatim yang diisi sektor usaha mikro lebih kurang 63 persen,” jelasnya.
Adapun pengguna QRIS di Jatim sampai dengan Juni berjumlah 7,27 juta jiwa tumbuh 39,54 persen. (opi)
Editor : Nofilawati Anisa