Industri & Perdagangan Infrastruktur Otomotif Perbankan & Keuangan Person of The Year Properti Transportasi & Logistik Wisata & Kuliner

Jaga Kestabilan Rupiah, Arus Masuk Dolar Harus Dijaga

Rahmat Sudrajat • Selasa, 30 Juli 2024 | 17:53 WIB
Ahli Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga Imron Mawardi.
Ahli Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga Imron Mawardi.

SURABAYA (Radar Surabaya Bisnis) - Nilai tukar rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) saat ini tengah menghadapi tekanan seiring ketidakpastian ekonomi dan politik di Amerika Serikat.

Meski demikian Bank Indonesia telah melakukan berbagai upaya untuk menjaga stabilitas rupiah, termasuk melakukan operasi pasar.

Meskipun sebelumnya sempat tertekan hingga level Rp 16.300, rupiah berhasil ditahan di sekitar harga Rp 16.000.

Menurut pakar ekonomi Imron Mawardi, ada dua indikator ekonomi yang cenderung melemah karena faktor yang sama.

Hal ini menyebabkan dolar AS menguat terhadap mata uang lainnya, termasuk rupiah.

Akibatnya, minat beli di pasar modal Indonesia pun berkurang, yang berdampak pada penurunan IHSG.

"Saat ini, pasar sedang menunggu data-data ekonomi AS, seperti PDB kuartal kedua dan tingkat inflasi. Ditambah lagi dengan situasi politik yang memanas pasca mundurnya Joe Biden, membuat investor lebih memilih menyimpan dana dalam bentuk dolar AS," kata Imron, Senin (29/7).

Ahli Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga (Unair) ini mengaku, perlu adanya strategi panjang yakni, pemerintah perlu fokus untuk menjaga arus masuk dolar dan mencegah capital outflow.

"Kuncinya adalah menjaga kepastian hukum, stabilitas politik, dan kondisi ekonomi yang kondusif agar investor tetap merasa aman berinvestasi di Indonesia," terangnya.

Selain itu, pemerintah juga perlu memastikan transaksi perdagangan internasional berjalan lancar untuk menjaga ketersediaan dolar di dalam negeri.

Hal ini akan membantu memperkuat posisi rupiah di pasar valuta asing.

"Bank Indonesia memiliki tugas makroprudensial, yang berarti harus menjaga kestabilan rupiah dan mengendalikan inflasi. Ini penting untuk memberikan kepastian usaha," tuturnya.

Imron menjelaskan, dalam beberapa bulan ke depan, IHSG diperkirakan akan bergerak di kisaran Rp 7.100 hingga Rp 7.354.

"Jika level support Rp 7.207 berhasil ditembus, indeks bisa turun ke level Rp 7.050 hingga Rp 7.200. Namun, jika mampu melewati level resistensi Rp 7.354, IHSG berpotensi naik hingga Rp 7.400," jelasnya.

Oleh karena itu, dia menyarankan kepada para pelaku pasar untuk melakukan hedging guna mengelola risiko akibat fluktuasi nilai tukar.

Pelaku usaha yang membutuhkan dolar juga dianjurkan untuk menyiapkan cadangan dolar sejak dini guna mengantisipasi pelemahan rupiah di masa depan.

“Diversifikasi portofolio juga penting. Investor bisa mempertimbangkan untuk menempatkan sebagian dana di instrumen investasi berbasis dolar AS untuk mengurangi risiko fluktuasi nilai tukar," pungkasnya. (rmt/nur)

Editor : Nurista Purnamasari
#rupiah #Indikator Ekonomi #dolar #amerika serikat #indeks harga saham gabungan