JAKARTA (Radar Surabaya Bisnis) – Penghimpunan dana di pasar modal sendiri masih mencatat tren yang positif.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) optimistis target penghimpunan dana di pasar modal yang sebesar Rp 200 triliun tahun ini akan tercapai.
Pada Juni 2024, penghimpunan dana di pasar modal dengan nilai penawaran umum mencapai Rp 120 triliun.
OJK mencatat, hingga Juni 2024 terdapat 25 emiten baru yang mendaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI).
“Di sisi penggalangan dana Securities Crowd Funding (SCF) hingga Juni 2024 telah terdapat 17 penyelenggara yang telah mendapatkan izin OJK dengan 548 penerbit, 156 ribu pemodal dan total dana SCF yang dihimpun sebesar Rp 1,11 triliun,” kata Kepala Eksekutif
Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon (PMDK) OJK Inarno Djajadi, Rabu (10/7).
Inarno mengatakan, berdasarkan data penawaran umum pada tahun ini, nilai penawaran umum didominasi oleh penerbitan Efek Bersifat Utang dan/atau Sukuk (EBUS) yang mencapai nilai Rp 80,13 triliun (66,78 persen dari total penawaran umum).
Kemudian diikuti penawaran umum terbatas (PUT) sebesar Rp 36,30 triliun (30,25 persen), dan selanjutnya IPO saham sebesar Rp 3,56 triliun (2,97 persen).
“Berdasarkan data historis lima tahun terakhir, dari sisi jumlah penawaran umum, penerbitan EBUS merupakan yang tertinggi dengan jumlah 84 penawaran umum, untuk penerbitan IPO saham sebanyak 25, menempati posisi ketiga, dan untuk PUT dengan jumlah 11 merupakan yang tertinggi keempat,” jelasnya.
Adapun berdasarkan data pipeline saat ini, terdapat rencana 79 perusahaan yang akan IPO saham dengan nilai indikatif penawaran umum sebesar Rp 11,08 triliun.
Rencana penawaran umum terbatas sebanyak tujuh perusahaan dengan nilai indikatif Rp 3,88 triliun, dan 17 rencana penawaran EBUS dengan nilai indikatif Rp 15,06 triliun, sehingga total pipeline sebesar Rp 30,02 triliun.
(ant/nur)