Industri & Perdagangan Infrastruktur Otomotif Perbankan & Keuangan Person of The Year Properti Transportasi & Logistik Wisata & Kuliner

Kredit Perbankan Tumbuh 13,09 Persen pada April 2024

Nurista Purnamasari • Kamis, 23 Mei 2024 | 20:16 WIB
PERMODALAN: Pertumbuhan kredit ditopang oleh kredit investasi, kredit modal kerja, dan kredit konsumsi.
PERMODALAN: Pertumbuhan kredit ditopang oleh kredit investasi, kredit modal kerja, dan kredit konsumsi.

JAKARTA (Radar Surabaya Bisnis)Bank Indonesia (BI) mencatat pertumbuhan kredit perbankan terus meningkat. 

Pada April 2024, kredit tumbuh tinggi sebesar 13,09 persen (year on year/yoy) didorong oleh pertumbuhan kredit di banyak sektor.

Sektor-sektor tersebut yakni industri, jasa dunia usaha, dan perdagangan, sejalan dengan meningkatnya pertumbuhan ekonomi.

Asisten Gubernur, Kepala Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono menuturkan, tingginya permintaan kredit dipengaruhi oleh sisi penawaran, sejalan dengan terjaganya appetite perbankan yang didukung oleh tingginya permodalan.

Pertumbuhan kredit tersebut juga ditopang oleh pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang terus meningkat, yang mencapai 8,21 persen (yoy) pada April 2024.

“Dari sisi permintaan, pertumbuhan kredit didukung oleh kinerja korporasi dan rumah tangga yang tetap terjaga baik,” jelasnya dalam siaran persnya dikutip, Kamis (23/5).

Berdasarkan kelompok penggunaan, pertumbuhan kredit ditopang oleh kredit investasi, kredit modal kerja, dan kredit konsumsi yang masing-masing tumbuh sebesar 15,69 persen (yoy), 13,25 persen (yoy), dan 10,34 persen (yoy).

Pembiayaan syariah juga tumbuh tinggi sebesar 14,88 persen (yoy), sementara kredit UMKM tumbuh sebesar 7,30 persen (yoy).

Dengan perkembangan tersebut, pertumbuhan kredit 2024 akan terus meningkat menuju batas atas kisaran prakiraan 10-12 persen.

“Bank Indonesia akan terus memperkuat efektivitas implementasi kebijakan makroprudensial akomodatif dan mempererat sinergi dengan pemerintah, KSSK, perbankan, serta pelaku usaha untuk mendukung peningkatan kredit/pembiayaan bagi pertumbuhan ekonomi secara berkelanjutan,” tuturnya.

Sementara itu, ketahanan perbankan tecermin dari likuiditas yang memadai, risiko kredit yang rendah, dan permodalan yang kuat.

Likuiditas perbankan yang tecermin dari rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) tercatat tinggi sebesar 25,62 persen.

Rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) masih tinggi sebesar 25,96 persen pada Maret 2024.

“Sementara rasio kredit bermasalah perbankan (Non-Performing Loan/NPL) tercatat rendah sebesar 2,25 persen (bruto) dan 0,77 persen (neto),” ujarnya.

Ketahanan perbankan yang kuat juga didukung oleh kemampuan membayar korporasi yang baik.

Hasil stress-test Bank Indonesia menunjukkan ketahanan perbankan dan korporasi tetap kuat dalam menghadapi tekanan ketidakpastian pasar keuangan global, termasuk risiko dari eksposur Utang Luar Negeri (ULN) institusi keuangan dan korporasi yang terjaga, didukung oleh strategi pengelolaannya yang baik.

“Bank Indonesia akan terus memperkuat sinergi kebijakan bersama KSSK dalam memitigasi berbagai risiko yang berpotensi mengganggu stabilitas sistem keuangan,” pungkasnya. (nur)

Editor : Nurista Purnamasari
#bank indonesia #industri #kredit perbankan #pembiayaan syariah #perbankan