SURABAYA (Radar Surabaya Bisnis) - Pasca diakuisisi Kasikorn Bank (KBank) Thailand, Bank Maspion Tbk terus melakukan langkah strategis.
Selain memindahkan kantor pusat operasional ke Pakuwon Tower, emiten dengan kode perdagangan BMAS ini juga akan mengoptimalkan mobile banking.
President Director Bank Maspion Kasemsri Charoensiddhi mengatakan, pihaknya sangat optimistis bisa meningkatkan kinerja ke depan.
Sebab itu berbagai langkah stretegis terus dilakukan. Diantaranya memindahkan kantor pusat dari Jalan Basuki Rahmat ke Pakuwon Tower.
“Pemindahan alamat Kantor Pusat Bank Maspion ini merupakan salah satu momentum penting dalam mewujudkan visi dan misi Bank Maspion untuk menjadi 20 besar bank terbesar di Indonesia dan bank terbesar di Jawa Timur pada 2027,” kata Kasemsri yang didampingi Business Director Theresia Endah Winarni dan Operational Director Iis Herijati, Kamis (28/3).
Dia yakin pemindahan kantor pusat ini akan berdampak positif terhadap kinerja ke depan.
Pasalnya, Pakuwon Tower selain dikenal sebagai perkantoran berkelas di Surabaya, juga aksesnya sangat mudah.
Selain itu juga berada di kawasan bisnis terkenal lengkap dengan Tunjungan Plaza-nya.
Hal ini sejalan dengan visi Bank Maspion yang selain tetap menyasar segmen korporasi sebagai market utama, juga mengembangkan ke segmen UMKM dan retail.
Sehingga branding yang dilakukan di mal terutama terkait digital banking akan sangat mudah.
“Sekarang sudah banyak retail di TP yang menggunakan QRIS Bank Maspion. Ini juga bagian dari strategi untuk memperkenalkan Bank Maspion sebagai bagian dari KBank Group,” tambahnya.
Dijelaskan, proses akuisisi Bank Maspion dilakukan pada 2017. Saat itu KBank hanya sebagai partner strategis Bank Maspion dengan kepemilikan saham sebesar 9,99 persen.
Pada tahun 2022, KBank melalui anak perusahaannya KASIKORN Vision Financial Company PTE. LTD berhasil mengakuisisi 30,01 persen saham Bank Maspion melalui Conditional Sale and Purchase Agreement (CSPA).
Sehingga menjadikan KBank Group sebagai pemegang saham mayoritas dengan total kepemilikan saham 40 persen.
Pada akhir tahun 2022, melalui Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD/rights issue), KBank meningkatkan kembali saham kepemilikannya hingga 67,5 persen.
Dan pada akhir 2023, KBank meningkatkan investasi di Bank Maspion dengan menambah total modal bank menjadi Rp 6,7 triliun dari semula hanya Rp 3 triliun.
Hal ini membuat tingkat klasifikasi modal inti Bank Maspion juga meningkat dari KBMI 1 menjadi KBMI 2.
“Dengan penambahan modal tersebut, kini KBank menguasai saham Bank Maspion hingga 84,55 persen. Melalui Bank Maspion, KBank berkomitmen untuk berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia sebagai mitra keuangan dan bisnis yang dapat diandalkan,” tambahnya.
Sebagai pemegang saham mayoritas dia yakin akan mampu membawa Bank Maspion sukses sebagaimana KBank di Thailand.
Saat ini KBank merupakan tiga besar di Thailand. Kantornya sudah menyebar di kawasan Asean seperti Jepang, China, Korea Vietnam, Indonesia, Kamboja dan Laos.
Dia ingin menjadikan Bank Maspion menjadi bank terbesar di Jatim dan salah satu dari 20 bank terbesar di Indonesia pada tahun 2027.
Dan ke depan, posisi Bank Maspion bisa masuk dalam 15 bank besar di Indonesia.
“Head quarter Bank Maspion tetap akan di Surabaya. Namun kami juga membuka kantor cabang di Jakarta,” ujarnya.
Kinerja Makin Moncer
Pasca akuisisi, pihaknya yakin Bank Maspion akan semakin bagus kinerjanya ke depan.
Hal ini terlihat dari pencapaian di tahun 2023 dimana jumlah pinjaman yang disalurkan sebesar Rp 13,2 triliun, naik 50,7 persen dibandingkan dengan pencapaian tahun 2022 sebesar Rp 8,8 triliun.
“Pertumbuhan jumlah pinjaman yang disalurkan tersebut disebabkan adanya peningkatan penyaluran pinjaman di beberapa sektor seperti korporasi, komersil, dan UMKM & retail,” katanya.
Tahun 2024, pihaknya yakin bisa menyalurkan pinjaman senilai Rp 19,5 triliun, naik 48 persen dibandingkan dengan tahun 2023.
Sektor korporasi masih mendominasi sebesar Rp 8,5 triliun (44 persen), sektor komersil Rp 9 triliun (46 persen) dan sektor retail sebesar Rp 2 triliun (10 persen).
Sementara dana pihak ketiga (DPK), tahun 2023 Bank Maspion berhasil membukukan total DPK sebesar Rp 11 triliun, naik 1 persen dari Rp 10,9 triliun di tahun 2022.
“Tahun 2024, kami targetkan DPK tumbuh 80 persen senilai Rp 19,8 triliun, komposisinya current account senilai Rp 2,2 triliun (11 persen), saving account senilai Rp 1,5 triliun (8 persen), dan term deposit senilai Rp 16,1 triliun (81 persen),” tuturnya.
Bukan hanya itu, Bank Maspion juga mulai agresif menyasar transaksi digital. Hasilnya cukup menggembirakan.
Tahun 2023, transaksi QRIS Bank Maspion mencapai Rp 24 miliar dengan menggandeng lebih dari 4.300 merchant.
Menyadari potensi peningkatan transaksi digital, tahun 2024 Bank Maspion menargetkan untuk dapat bekerja sama dengan lebih dari 7.900 merchant dan menjangkau total minimal 12.500 merchant dengan target nilai transaksi sebesar Rp 150 miliar.
“Sebab itu, saat ini kami mempersiapkan peluncuran aplikasi mobile banking baru yang ditargetkan akan dilakukan pada kuartal kedua 2024,” pungkas Kasemsri. (fix/nur)
Editor : Nurista PurnamasariSumber : radar surabaya bisnis