SURABAYA (Radar Surabaya Bisnis) – Secara keseluruhan, APBN di Jawa Timur (Jatim) sampai dengan 29 Februari 2024 menunjukkan kinerja yang baik.
Hal ini ditunjukkan dengan capaian surplus hingga Rp 20,38 triliun atau 13,64 persen dari target surplus di angka Rp 149,42 Triliun.
Kepala Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Kementerian Keuangan Provinsi Jatim, Taukhid mengatakan, realisasi APBD konsolidasian se-Jatim hingga 29 Februari Rp 20,82 triliun (16,41persen) dari target tahun anggaran 2024 sebesar Rp 126,86 triliun.
Capaian itu mengalami pertumbuhan baik persentase (25,77 persen) maupun nominal (25,57 persen) secara year on year (yoy).
"Sedangkan belanja APBD Konsolidasian se-Jatim sampai dengan 29 Februari 2024 telah terealisasi Rp 7,65 triliun atau 5,56 persen dari pagu belanja tahun angaran 2024 sebesar Rp 137,69 triliun yang didominasi oleh komponen belanja pegawai dengan proporsi 54,27 persen," katanya, Jumat (22/3).
Sehingga Surplus APBD hingga 29 Februari 2024 tercatat sebesar Rp 13,17 triliun, dengan pembiayaan bersih sebesar Rp 4,57 triliun menghasilkan SILPA hingga 29 Februari 2024 mencapai Rp 8,60 triliun.
"Proporsi Realisasi Transfer ke Daerah (TKD) terhadap realisasi pendapatan daerah sebesar 75,66 persen menunjukkan bahwa dukungan dana pusat melalui TKD masih menjadi faktor dominan sumber pendanaan APBD di pemda se-Jawa Timur," jelasnya.
Sementara itu, capaian penerimaan pajak di Jatim Januari hingga Februari tumbuh sebesar 8,43 persen (c to c) atau sebesar Rp 18,22 triliun.
Hal ini menunjukkan tren pertumbuhan positif sejak tahun tahun 2022, sebagai pemulihan aktivitas ekonomi dan berlakunya tarif PPN 11 persen.
"Penerimaan PPN dan PPnBM di Jawa Timur menyumbang penerimaan sebesar 60,89 persen dan PPh non migas sebesar 38,48 persen. Pada tahun 2025 tarif PPN akan meningkat menjadi 12 persen dan diharapkan akan menumbuhkan penerimaan PPN," ungkap.
Untuk penyaluran kredit, Taukhid menambahkan, sampai dengan Februari 2024 mencapai Rp 6.759,97 miliar kepada 152.155 debitur.
Terdiri dari penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) sebesar Rp 6.638,40 miliar kepada 123.768 debitur, kredit Ultra Mikro (UMi) sebesar Rp 121,57 miliar kepada 28.387 debitur.
"Penyaluran KUR tumbuh positif 360,38 persen (debitur) dan 734,61 persen (nominal), dan penyaluran Umi mengalami pertumbuhan 35,32 persen (debitur), dan 66,87 persen (nominal)," pungkasnya. (mus/nur)
Editor : Nurista Purnamasari