Industri & Perdagangan Infrastruktur Otomotif Perbankan & Keuangan Person of The Year Properti Transportasi & Logistik Wisata & Kuliner

Tingkatkan Stabilisasi Rupiah, Eksportir/Importir Diimbau Transaksi Pakai Local Currency Settlement

Mus Purmadani • Kamis, 7 Desember 2023 | 15:53 WIB
PERKUAT RESILIENSI PASAR KEUANGAN: Para eksportir/importir di Jatim didorong untuk memanfaatkan transaksi Local Currency Settlement dalam perdagangan.
PERKUAT RESILIENSI PASAR KEUANGAN: Para eksportir/importir di Jatim didorong untuk memanfaatkan transaksi Local Currency Settlement dalam perdagangan.

SURABAYA - Demi meningkatkan daya saing perdagangan internasional dan mendongkrak perekonomian, Bank Indonesia Kantor Perwakilan Jawa Timur (BI Jatim) mendorong pemanfaatan transaksi Local Currency Settlement (LCS) oleh para eksportir/importir Jatim.

Kepala BI Jatim, Doddy Zulverdi menjelaskan, program LCS ini merupakan satu upaya meningkatkan stabilitas nilai tukar rupiah, memperkuat resiliensi pasar keuangan dometik, dan meningkatkan hubungan perdagangan serta investasi dengan negara mitra.

“Program LCS ini telah ada sejak 2018, dan baru ada empat negara yang telah mengimplementasikannya, yakni Malaysia, Thailand, Jepang, dan China. Tujuannya untuk mengurangi ketergantungan terhadap mata uang hard currencies, terutama USD,” katanya, Rabu (22/11).

Dalam program ini, nasabah Indonesia dan nasabah negara mitra dapat membayar/menerima pembayaran dalam mata uang local, yakni MYR, THB, JPY, CNY maupun IDR. Transaksinya dapat dilakukan tanpa harus melakukan konversi tersebih dahulu ke USD.

“Pelaku usaha yang memanfaatkan transaksi LCS masih belum banyak dan sebagian besar berada di Jawa, termasuk Jatim yang selama ini mengandalkan kinerja ekspor-impor sehingga potensinya masih cukup besar,” ujarnya.

Dalam mapping potensi transaksi LCS di Jatim ini, terdapat sejumlah sektor potensial yang bisa memanfaatkan program LCS, di antaranya seperti ekspor-impor produk manufaktur, pertanian dan pertambangan.

Perusahaan di Jatim yang telah memanfaatkan LCS dengan Jepang, di antaranya untuk transaksi perdagangan barang industri listrik, minyak, alat tulis, alat berat, makanan dan minuman, serta mesin. Sedangkan transaksi Jatim dengan China, kebanyakan produk minyak dan gas, stainless steel, batu-bara, nikel, paper processing, dan elektronik serta telekomunikasi.

BI bersama pemerintah dan otoritas jasa keuangan sendiri telah membentuk Satgas Nasional Local Currency Transactions (LCT) karena selama ini penggunaan USD masih sangat mendominasi transaksi perdagangan internasional mencapai 94 persen (ekspor) dan 78 persen (impor).

Pemerintah juga melakukan MoU pengembangan LCT dengan Singapura, Malaysia, Thailand, dan Korea Selatan. BI mencatat, tren volume transaksi LCS nasional pada Januari-September 2023 mencapai USD 4,92 miliar, naik 54,4 persen (yoy).

Rata-rata bulanan (RRB) transaksi LCS pada periode tersebut tercatat USD 547,2 juta per bulan atau naik 67,7 persen (yoy). Hingga Agustus 2023, persentase penggunaan rupiah pada transaksi LCS sebesar 29 persen yang didorong oleh Thailand 65 persen dan Jepang 31 persen.

Jumlah pelaku usaha yang memanfaatkan LCS selama Januari-September 2023 tercatat 2.346 nasabah atau naik 34,7 persen dibandingkan periode sama 2022 yang hanya 1,741 nasabah. Perkembangan pelaku LCS juga meningkat setiap bulannya, misalnya dengan Malaysia bertambah sebanyak 282 pelaku baru.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim, Zulkipli mengatakan, kinerja ekspor Jatim pada Januari-Oktober 2023 tercatat USD 17,18 miliar atau turun -15,02 persen dibandingkan periode sama 2022 yakni USD 20,22 miliar.

“Penurunan disebabkan oleh kondisi perekonomian negara mitra dagang utama Jatim seperti Tiongkok, India, dan Thailand Oktober 2023 tampak menurun nilai manufacturing PMI-nya, tapi manufacturing PMI Jepang dan Amerika Serikat naik,” katanya.

Zulkipli menambahkan, dalam beberapa bulan sebelumnya kinerja ekspor bulanan Jatim memang menurun, tetapi pada Oktober tercatat USD 2,10 miliar atau berhasil naik 11,55 persen dibandingkan September atau naik 6,25 persen dibandingkan Oktober tahun lalu.

Adapun pangsa pasar ekspor Jatim sepanjang tahun ini didominasi oleh China USD 2,43 miliar, AS USD 2,32 miliar, Jepang USD 2,28 miliar, negara-negara Asean USD 2,83 miliar, dan Uni Eropa USD 1,21 miliar. (mus/nur)

Editor : Nurista Purnamasari
#stabilisasi rupiah #ekspor #transaksi #Local Currency Settlement #impor