SURABAYA – Usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) menjadi salah satu sektor tulang punggung ekonomi Jawa Timur (Jatim) dengan share sekitar 58 persen. Penyaluran kredit perbankan ke sektor tersebut juga cukup positif, terbukti pertumbuhannya mencapai 8,52 persen.
Bank Indonesia Jawa Timur (BI Jatim) mencatat, hingga Oktober 2023 penyaluran kredit sektor UMKM terpantau tumbuh tinggi 8,52 persen dengan pangsa kredit UMKM mencapai 31,3 persen atau sudah di atas syarat minimal Rasio Pembiayaan Inklusif Makroprudensial (RPIM) sebesar 25 persen.
Deputi Kepala BI Jatim Rizki Ernadi Wimanda mengatakan, sektor UMKM memiliki potensi yang cukup bagus, mampu tumbuh dan berkembang, memiliki pasar yang luas, serta tahan berbagai kondisi. Oleh karena itu BI Jatim berupaya mendorong pertumbuhan UMKM. “Setidaknya ada tiga pilar pengembangan UMKM yang dilakukan BI,” kata Rizky, Kamis (30/11).
Pilar pertama adalah korporatisasi UMKM melalui pengembangan klaster pangan eksisting. Kedua, peningkatan kapasitas UMKM melalui pengembangan pariwisata dan pendampingan.
“Sedangkan pilar ketiga, adalah peningkatan akses pembiayaan melalui kegiatan business matching pada gelaran Java Coffe Culture, Festival Ekonomi Syariah (Fesyar) Jawa 2023, pemberian pelatihan kepada 200 UMKM, serta penyediaan database profil UMKM," imbuhnya.
Sementara itu, Wakil Gubernur Jatim Emil Elestianto Dardak menjelaskan, UMKM merupakan salah satu sektor tulang punggung ekonomi Jatim dengan share sekitar 58 persen. Untuk itu, Pemprov Jatim terus menjalankan program afirmasi sebagai penguatan koperasi dan UMKM.
"Penguatan UMKM ini kita lakukan melalui program One Pesantren One Product (OPOP), program kredit sejahtera Jatim (Prokesra), advokasi dan klinik center KUMKM, dan program Millenial Job Center (MJC) yang kita targetkan sampai akhir tahun terbentuk 10.000 proyek, hingga saat ini sudah tercapai 9.000," katanya. (mus/nur)
Editor : Nurista Purnamasari