Era Robotika Tiba, Lulusan SMK Kini Jadi Incaran Industri Manufaktur hingga Otomotif

Hany Akasah • Dipublikasikan Selasa, 21 Juli 2026 | 11:08 WIB
ERA ROBOTIKA: Siswa SMK mempraktikkan pengoperasian lengan robotika dalam pembelajaran berbasis otomasi industri.
ERA ROBOTIKA: Siswa SMK mempraktikkan pengoperasian lengan robotika dalam pembelajaran berbasis otomasi industri.

RADAR SURABAYA BISNIS — Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui Direktorat Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) terus memperkuat kesiapan lulusan SMK dalam menghadapi era digitalisasi dan otomasi. 

Salah satu langkah strategis yang dilakukan adalah memperluas peluang karir di bidang robotika yang kini semakin dibutuhkan oleh berbagai sektor industri.

Direktur SMK Kemendikdasmen, Arie Wibowo, menegaskan bahwa teknologi robotika saat ini bukan lagi sekadar wacana masa depan, melainkan bagian nyata dari operasional industri modern.

Baca Juga: Bediding di Surabaya Capai Puncak Juli-Agustus, Ini Bahaya yang Sering Tak Disadari

"Robotika telah digunakan di berbagai sektor, mulai dari manufaktur, logistik, otomotif, makanan dan minuman, elektronik, hingga pergudangan. Kebutuhan tenaga kerja pun beralih dari pekerjaan manual menuju kemampuan mengoperasikan, memelihara, hingga mengembangkan sistem otomatis," ujar Arie dalam webinar bertajuk Menciptakan Masa Depan: Robotika sebagai Peluang Karier bagi Murid SMK, disiarkan dari Jakarta.

Menurut Arie, siswa SMK sebenarnya telah memiliki dasar kompetensi yang kuat melalui berbagai konsentrasi keahlian, seperti Teknik Mekatronika, Elektronika Industri, Otomasi Industri, Pemesinan, Instalasi Tenaga Listrik, Rekayasa Perangkat Lunak (RPL), hingga Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ).

Baca Juga: Proyek Jalan Raya Wiyung Rp138 Miliar Dikebut, Kemacetan Ditarget Berkurang

Meski demikian, tantangan dunia kerja saat ini menuntut kemampuan multi-skill yang menggabungkan berbagai disiplin ilmu. 

Untuk menjawab tantangan tersebut, Kemendikdasmen fokus memperkuat penyelarasan kurikulum dengan standar industri, meningkatkan kualitas pembelajaran, serta mendorong kolaborasi dengan dunia usaha dan industri (DUDI) melalui program guru tamu hingga magang terstruktur.

Arie tidak menampik adanya tantangan di lapangan, terutama terkait keterbatasan dan belum meratanya peralatan laboratorium robotika standar industri di sekolah-sekolah, serta kebutuhan peningkatan kompetensi guru pendamping. 

Baca Juga: Baru Punya 1 Pabrik, Pemerintah Ajak Swasta Bangun Hingga 50 Pabrik Bioetanol

Namun, ia optimistis tantangan tersebut dapat teratasi melalui sinergi dan kolaborasi yang berkelanjutan.

"Robot tidak akan menggantikan seluruh pekerjaan manusia, tetapi justru menciptakan pekerjaan baru dengan nilai tambah yang lebih tinggi, seperti sistem integrasi, pemrograman, pemeliharaan robot, hingga analisis data," pungkas Arie.

Editor : Hany Akasah
Sumber : radar surabaya bisnis
robotika arie wibowo lulusan smk kemendikdasmen industri