radarsurabayabisnis.id - Lonjakan penjualan mobil listrik berbasis baterai (battery electric vehicle/BEV) pada semester I 2026 dinilai belum menjadi tanda bahwa pasar kendaraan listrik di Indonesia telah matang. Meski penjualan meningkat tajam, sejumlah persoalan mendasar masih membayangi perkembangan industri kendaraan listrik.
Pakar otomotif Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Martinus Pasaribu, mengatakan kenaikan penjualan saat ini lebih dipengaruhi masuknya model-model baru serta strategi harga yang agresif dibandingkan terbentuknya ekosistem kendaraan listrik yang kuat.
"Tantangan terbesar justru berada pada ekosistemnya, yakni nilai jual kembali yang masih belum stabil, pasar kendaraan listrik bekas yang belum terbentuk kuat, serta kekhawatiran terhadap kondisi baterai setelah masa garansi," ujar Yannes, Senin (20/7).
Menurutnya, selama pasar mobil listrik bekas belum berkembang dan depresiasi harga masih sulit diprediksi, masyarakat akan tetap berhati-hati untuk membeli kendaraan listrik.
Baca Juga: Pergeseran Tren Otomotif, Mobil PHEV Mulai Dilirik Pasar Indonesia
Selain itu, ketergantungan terhadap pengisian daya di rumah juga masih menjadi tantangan. Di sisi lain, pembangunan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) dan Stasiun Penukaran Baterai Kendaraan Listrik Umum (SPBKLU) dinilai belum merata, terutama di luar kota-kota besar.
BYD Melonjak 488%, Jaecoo Tembus 3.050 Unit
Yannes menilai keberhasilan transisi menuju kendaraan listrik tidak hanya bergantung pada penjualan, tetapi juga pada pembangunan ekosistem yang menyeluruh.
"Keberhasilan adopsi EV akan ditentukan oleh konsistensi kebijakan pemerintah, percepatan pembangunan SPKLU dan SPBKLU, pengembangan industri daur ulang baterai, serta terbentuknya pasar kendaraan listrik bekas yang lebih sehat," katanya.
Meski demikian, prospek kendaraan listrik di Indonesia masih dinilai positif. Penurunan harga baterai global, semakin banyak pilihan model, serta biaya operasional yang lebih murah dibandingkan kendaraan berbahan bakar fosil diperkirakan akan terus mendorong pertumbuhan pasar.
Baca Juga: Insentif Mobil Listrik Batal Lagi, Subsidi Rp5 Juta untuk Motor Masih Menunggu
Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), penjualan mobil listrik BYD mencapai 5.264 unit pada Juni 2026 atau melonjak 488,2 persen dibandingkan Mei. Sementara itu, Jaecoo membukukan penjualan 3.050 unit atau meningkat sekitar 1,7 persen.
Namun, Yannes menegaskan kematangan pasar kendaraan listrik tidak bisa diukur hanya dari tingginya angka penjualan, melainkan dari tersedianya ekosistem yang mampu memberikan kepastian kepada konsumen selama masa kepemilikan kendaraan.
Editor : Hany AkasahSumber : Radar Surabaya