Tren Motor Klasik Naik, Mekanik Surabaya Ungkap Daya Beli Makin Lesu

Mus Purmadani • Dipublikasikan Jumat, 17 Juli 2026 | 18:02 WIB
Salah satu kendaraan tertua yang pernah ditangani Cak Zam adalah motor merek FN keluaran 1914.
Salah satu kendaraan tertua yang pernah ditangani Cak Zam adalah motor merek FN keluaran 1914.

radarsurabayabisnis.id - Popularitas motor klasik atau motor lawas terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Komunitas dan penghobi bermunculan di berbagai daerah. Namun, di balik tren tersebut, daya beli masyarakat justru mengalami penurunan sehingga transaksi jual beli tidak lagi seramai sebelumnya.

Hal itu diungkapkan Zamrony atau yang akrab disapa Cak Zam, mekanik spesialis motor klasik asal Surabaya yang telah puluhan tahun berkecimpung di dunia restorasi motor-motor Eropa.

Baca Juga: Bahlil Gelontorkan Rp635 Miliar, Program Konversi Motor Listrik Dimulai Lagi pada 2027

Menurutnya, harga motor klasik relatif stabil, tetapi jumlah pembeli terus menurun dalam satu dekade terakhir.

"Kalau soal tren, peminat motor tua memang semakin banyak. Tapi daya beli justru semakin menurun dalam 10 tahun terakhir, meskipun harga motor cenderung stabil," ujarnya saat ditemui di bengkelnya di kawasan Menur Pumpungan, Surabaya, Jumat (17/7).

Ia menilai kondisi tersebut membuat aktivitas jual beli motor klasik tidak lagi seramai beberapa tahun lalu. Meski demikian, minat masyarakat terhadap kendaraan lawas tetap tinggi karena memiliki nilai sejarah dan seni yang tidak dimiliki motor modern.

Menurut Cak Zam, maraknya kendaraan listrik juga tidak memengaruhi komunitas pecinta motor klasik.

"Bagi penghobi motor klasik, motor baterai tidak berpengaruh," katanya.

Perjalanan Cak Zam menjadi mekanik motor klasik berawal saat merantau ke Bali pada 1986 untuk membantu usaha kakaknya di bidang perbaikan jok kendaraan. Ketertarikannya terhadap motor lawas muncul setelah sering melihat temannya mengendarai motor klasik.

Baca Juga: Insentif Mobil Listrik Batal Lagi, Subsidi Rp5 Juta untuk Motor Masih Menunggu

Pada 1990, ia memberanikan diri membeli motor BSA dalam kondisi rusak seharga Rp1,7 juta. Meski saat itu nilainya tergolong mahal, ia tetap membelinya karena seluruh komponennya masih lengkap.

Pengalaman memperbaiki motor tersebut menjadi titik balik dalam hidupnya. Setelah sempat salah memasang selang hingga mesin jebol, ia belajar secara otodidak melalui buku manual servis yang diterjemahkan mahasiswa dan wisatawan asing.

Kemampuannya terus berkembang ketika aktif mengikuti touring bersama komunitas motor klasik di Bali. Ia kerap membantu memperbaiki motor peserta yang mogok di tengah perjalanan hingga akhirnya dikenal sebagai mekanik spesialis motor lawas.

Keahliannya bahkan pernah menarik perhatian pihak dari Inggris yang menawarkan kesempatan membuka bengkel di negara tersebut. Namun, tawaran itu ditolak karena memilih tetap berkarya di Indonesia.

"Ini sudah menjadi hobi saya. Jadi bukan semata-mata mencari uang," ungkapnya.

Kini, setelah kembali menetap di Surabaya, bengkel miliknya melayani pelanggan dari berbagai daerah, mulai Jawa Timur, Bali, Aceh hingga Tanjung Pinang. Tidak sedikit kolektor yang mengirimkan motor klasik melalui jasa ekspedisi untuk direstorasi.

Salah satu kendaraan tertua yang pernah ditanganinya adalah motor merek FN keluaran 1914. Menurut Cak Zam, motor tersebut sebelumnya beberapa kali diperbaiki di berbagai bengkel, tetapi baru kembali hidup setelah ditangani di bengkelnya.

Editor : Hany Akasah
Sumber : Radar Surabaya
motor tua motor lawas restorasi motor motor antik motor klasik