radarsurabayabisnis.id - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mulai menyiapkan kebangkitan program konversi sepeda motor berbahan bakar minyak (BBM) menjadi motor listrik pada 2027. Pemerintah akan mengevaluasi skema subsidi dan insentif agar program lebih efektif sekaligus mampu menarik lebih banyak masyarakat beralih ke kendaraan listrik.
Program tersebut diharapkan menjadi salah satu penggerak percepatan transisi energi sekaligus memperluas penggunaan kendaraan listrik di Indonesia.
Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, mengatakan pemerintah saat ini masih menyusun formulasi terbaik berdasarkan hasil evaluasi pelaksanaan program sebelumnya yang belum mencapai target.
"Kami sedang mengkaji apakah program ke depan masih menggunakan konsep yang sama seperti sebelumnya atau perlu perubahan agar lebih efektif," ujar Eniya, Rabu (8/7).
Skema Subsidi Konversi Motor Listrik Dievaluasi
Salah satu fokus evaluasi adalah mekanisme pemberian insentif kepada masyarakat.
Pada program sebelumnya, pemerintah memberikan subsidi sebesar Rp10 juta untuk setiap unit motor yang dikonversi menjadi motor listrik. Namun, biaya konversi rata-rata mencapai sekitar Rp15 juta sehingga pemilik kendaraan masih harus menambah biaya sekitar Rp5 juta.
Menurut Eniya, kondisi tersebut menjadi salah satu penyebab rendahnya minat masyarakat mengikuti program konversi motor listrik.
Baca Juga: Insentif Mobil Listrik Batal Lagi, Subsidi Rp5 Juta untuk Motor Masih Menunggu
Karena itu, Kementerian ESDM tengah menyiapkan skema baru agar biaya yang harus ditanggung masyarakat bisa lebih ringan.
Perusahaan Akan Dilibatkan Lewat Dana CSR
Untuk mengurangi beban biaya konversi, pemerintah berencana menggandeng sektor swasta melalui pemanfaatan dana Corporate Social Responsibility (CSR).
Melalui skema tersebut, perusahaan diharapkan dapat menanggung selisih biaya konversi yang sebelumnya dibayar oleh masyarakat.
Sebagai bentuk apresiasi, pemerintah akan memberikan insentif nonfiskal berupa tambahan poin dalam penilaian Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan (Proper) yang dikelola Kementerian Lingkungan Hidup.
"Dapat poin. Jadi mereka memberikan CSR itu," kata Eniya.
Pemerintah berharap kolaborasi tersebut dapat meningkatkan partisipasi masyarakat sekaligus mempercepat terbentuknya ekosistem kendaraan listrik nasional.
Pemerintah Siapkan Anggaran Rp635 Miliar
Komitmen pemerintah menghidupkan kembali program konversi motor listrik juga tercermin dalam usulan anggaran tahun 2027.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengalokasikan pagu sebesar Rp635,24 miliar untuk mendukung program konversi motor listrik.
Meski demikian, pemerintah belum menetapkan target jumlah sepeda motor yang akan dikonversi melalui anggaran tersebut.
Secara keseluruhan, Kementerian ESDM mengusulkan pagu indikatif sebesar Rp27,33 triliun pada 2027, meningkat dibandingkan anggaran tahun 2026 yang mencapai Rp21,67 triliun.
Dari total anggaran tersebut, Direktorat Jenderal EBTKE memperoleh alokasi Rp1,81 triliun atau sekitar 6,6 persen. Selain program konversi motor listrik, dana tersebut juga dialokasikan untuk program kompor listrik sebesar Rp815,6 miliar dan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) senilai Rp58,58 miliar.
Sementara itu, Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas) memperoleh porsi anggaran terbesar, yakni Rp11,33 triliun atau sekitar 41,4 persen. Anggaran tersebut diprioritaskan untuk pembangunan infrastruktur gas bumi, termasuk proyek Pipa Gas Dusem senilai Rp3,95 triliun dan pembangunan jaringan gas rumah tangga sebesar Rp5,21 triliun.
Adapun Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan mendapat alokasi Rp10,46 triliun atau sekitar 38,3 persen. Sebagian besar anggaran tersebut akan digunakan untuk mendukung pembangunan infrastruktur kelistrikan melalui Program Listrik Desa.
Pemerintah berharap penyempurnaan regulasi, skema insentif yang lebih menarik, serta dukungan anggaran yang lebih besar dapat meningkatkan keberhasilan program konversi motor listrik mulai 2027. Selain membantu menekan emisi karbon, program ini juga diharapkan mempercepat transisi energi dan menyediakan pilihan transportasi yang lebih ramah lingkungan serta ekonomis bagi masyarakat.
Editor : Hany Akasah