Industri & Perdagangan Infrastruktur Otomotif Perbankan & Keuangan Person of The Year Properti Transportasi & Logistik Wisata & Kuliner

Bank Plat Merah Umumkan Rencana Buyback Saham Maksimal Rp 1,50 Triliun

Nofilawati Anisa • Minggu, 1 Februari 2026 | 16:12 WIB
ILUSTRASI: Aktivitas perbankan di lingkungan BNI.
ILUSTRASI: Aktivitas perbankan di lingkungan BNI.

RADAR SURABAYA BISNIS - PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) merencanakan untuk melakukan pembelian kembali saham perseroan atau buyback.

Aksi buyback itu dilakukan untuk meredam tekanan jual di tengah volatilitas pasar.

Sekaligus memberi sinyal kepada investor bahwa harga saham perseroan saat ini tidak mencerminkan fundamental perusahaan.

Corporate Secretary BNI Okki Rushartomo mengatakan, nilai transaksi buyback oleh perseroan diperkirakan sebesar Rp 1,50 triliun.

Angka itu sudah termasuk biaya transaksi buyback yang meliputi biaya transaksi, biaya penyimpanan, dan commitment fee sekitar 0,32 persen dari nilai eksekusi buyback.

“Perkiraan nilai transaksi buyback sebesar-besarnya Rp1,50 triliun,” tulis Okki dalam keterbukaan informasi kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), dikutip Minggu (1/2/2026).

Okki mengatakan perkiraan nilai transaksi buyback tersebut tidak melebihi 10 persen dari jumlah modal yang ditempatkan dalam perseroan, yang berasal dari arus kas bebas (free cash flow) berupa saldo laba yang belum ditentukan penggunaannya.

Perkiraan nilai transaksi buyback termasuk biaya transaksi buyback sekitar 0,32 persen dari nilai eksekusi buyback, dengan asumsi buyback dilaksanakan secara keseluruhan.

Sepanjang 2025, saham perbankan Indonesia mengalami tekanan, utamanya dipengaruhi oleh ketidakpastian global akibat risiko geopolitik dan ancaman perang tarif.

Sedangkan di dalam negeri, perbankan nasional menghadapi tantangan likuiditas dan perlambatan loan demand.

“Hal ini menyebabkan saham perbankan Indonesia mengalami tekanan lebih dalam dibandingkan dengan bank-bank di kawasan regional,” ujar Okki.

Per 31 Desember 2025, harga saham BBNI hanya naik 0,5 persen secara tahunan (year on year/YoY).

Kendati lebih baik dari local peers, saham BBNI masih tertinggal jika dibandingkan dengan bank-bank regional peers.

Arus dana asing yang masuk belum sepenuhnya pulih meski pasar saham domestik mulai rebound di akhir 2025 seiring kembalinya optimisme investor asing yang mulai masuk kembali.

Manajemen menjelaskan, investor masih berhati-hati dalam mengantisipasi dampak ketidakpastian global yang kembali meningkat di awal 2026, terutama dipengaruhi sentimen, seperti tensi geopolitik dan ancaman tarif AS.

Ketidakstabilan geopolitik ini mendorong pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS (USD) hingga menyentuh nilai bahkan lebih rendah daripada masa krisis moneter tahun 1998 senilai Rp 16.985 per USD.

Untuk itu, buyback dilakukan guna membantu mengurangi tekanan jual di pasar saat indeks harga saham sedang berfluktuasi, sekaligus memberi indikasi kepada investor bahwa perusahaan memandang harga saham saat ini tidak mencerminkan fundamental perusahaan. (nis/opi)

 

 

Editor : Nofilawati Anisa
#perang tarif #likuiditas #BBNI #buyback saham #perbankan nasional #bank bni #buyback