Industri & Perdagangan Infrastruktur Otomotif Perbankan & Keuangan Person of The Year Properti Transportasi & Logistik Wisata & Kuliner

Dua Tahun Terakhir Industri Otomotif Diguyur Insentif Rp 7 Triliun, Bagaimana Kelanjutannya?

Nofilawati Anisa • Kamis, 15 Januari 2026 | 07:07 WIB
RUTIN: Pameran menjadi salah satu strategi Agen Pemegang Merek (APM) maupun Agen Tunggal Pemegang Merek (ATPM) untuk mendongkrak penjualan produk otomotif mereka.
RUTIN: Pameran menjadi salah satu strategi Agen Pemegang Merek (APM) maupun Agen Tunggal Pemegang Merek (ATPM) untuk mendongkrak penjualan produk otomotif mereka.

RADAR SURABAYA BISNIS – Industri otomotif menjadi salah satu motor penggerak perekonomian nasional.

Tak heran jika pemerintah menrauh perhatian serius terhadap laju perkembangan industri yang melibatkan banyak tenaga kerja itu.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, kelanjutan kebijakan insentif di sektor otomotif untuk tahun 2026 masih dalam tahap pengkajian menyeluruh.

Mengingat besarnya dukungan fiskal yang telah diberikan dalam beberapa tahun terakhir.

Menurutnya, selama dua tahun terakhir pemerintah sudah mengalokasikan insentif otomotif dengan nilai mencapai Rp 7 triliun.

Di sisi lain, kinerja investasi industri kendaraan bermotor, terutama kendaraan listrik, menunjukkan tren yang terus membaik.

"Otomotif silakan direview. Karena otomotif sudah kita berikan insentif selama dua tahun terakhir dan nilainya Rp7 triliun. Dan arahan sekarang adalah, dan investasi di sektor otomotif terutama EV sudah meningkat," ujar Airlangga di Indonesian Business Council (IBC) Business Outlook 2026 di Jakarta dilansir dari Antara, Rabu (14/1/2026).

Ia menambahkan, masuknya sejumlah produsen kendaraan listrik global memperkuat alasan perlunya evaluasi kebijakan.

Beberapa merek seperti VinFast dan BYD mulai berinvestasi di Indonesia, mengikuti langkah Hyundai yang lebih dulu menanamkan modal.

Dengan kondisi tersebut, pemerintah ingin memastikan arah kebijakan berikutnya tidak sekadar melanjutkan insentif lama.

Melainkan benar-benar mendukung penguatan industri otomotif nasional, termasuk pengembangan mobil nasional.

"Sehingga ke depannya ini akan didorong untuk (pengembangan) mobil nasional," tambah Airlangga.

Lebih lanjut, terkait usulan lanjutan dari Kementerian Perindustrian, Airlangga menyebut pembahasan masih difokuskan pada kajian yang lebih mendasar.

Evaluasi diperlukan secara lintas segmen, mulai dari kendaraan ramah lingkungan berbiaya rendah (LCGC) hingga kendaraan listrik dan teknologi hibrida.

"Karena yang lebih substantial kan berarti harus mulai dari evaluasi dari LCGC sampai kepada EV, Plug-in hybrid, hybrid. Jadi sifatnya lebih menyeluruh," pungkas Airlangga. (ara/opi)

Editor : Nofilawati Anisa
#pengkajian #airlangga hartarto #industri #insentif #Menteri Koordinator Bidang Perekonomian #fiskal #otomotif #pemerintah