Industri & Perdagangan Infrastruktur Otomotif Perbankan & Keuangan Person of The Year Properti Transportasi & Logistik Wisata & Kuliner

CPU hingga Mobil Listrik Dongkrak Impor sepanjang Januari hingga Juli 2025

Nofilawati Anisa • Rabu, 3 September 2025 | 21:05 WIB
PENGAPALAN: Mobil listrik menjadi salah satu pemicu naiknya nilai impor Indonesia sepanjang Januari hingga Juli menjadi USD 136,51 miliar.
PENGAPALAN: Mobil listrik menjadi salah satu pemicu naiknya nilai impor Indonesia sepanjang Januari hingga Juli menjadi USD 136,51 miliar.

RADAR SURABAYA BISNIS – Kementerian Perdagangan (Kemendag) mencatat secara kumulatif impor Indonesia mengalami kenaikan yang disebabkan oleh meningkatnya permintaan barang modal seperti central processing unit (CPU), mobil listrik, hingga ponsel pintar.

Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso mengatakan, impor Indonesia pada Januari-Juli mencapai USD 136,51 miliar atau tumbuh 3,41 persen (CtC).

Struktur impor Januari-Juli masih didominasi bahan baku atau penolong dengan pangsa 71 persen. Diikuti barang modal 20,05 persen dan barang konsumsi 8,94 persen.

"Beberapa penyebab kenaikan impor barang modal adalah naiknya impor central processing unit (CPU), mobil listrik, peralatan navigasi kapal, perangkat penerima sinyal, dan ponsel pintar," ujar Budi dalam keterangan di Jakarta dikutip dari Antara, Rabu (3/9).

Ia menjelaskan, peningkatan ini didorong oleh impor nonmigas yang naik 6,97 persen menjadi USD 118,13 miliar dibanding Januari-Juli 2024.

Dibanding Januari-Juli 2024, terjadi kenaikan impor barang modal sebesar 20,56 persen dan impor bahan baku atau penolong sebesar 0,15 persen (CtC), sedangkan impor barang konsumsi turun 2,47 persen.

“Untuk produk bahan baku atau penolong, lonjakan impor tertinggi adalah pada emas batangan, biji kakao, senyawa kimia untuk cakram elektronik, sulfur, dan naphtha,” ungkap menteri yang akrab disapa Busan.

Di sisi lain, impor barang konsumsi turun terutama untuk bahan bakar diesel, pendingin ruangan, bawang putih, krimer nonsusu (non-dairy creamer), dan buah pir.

Sementara itu, komoditas impor nonmigas dengan peningkatan tertinggi, antara lain, kakao dan olahannya (HS 18) yang naik sebesar 148,22 persen; logam mulia, perhiasan atau permata (HS 71) 87,67 persen; serta garam, belerang, batu, dan semen (HS 25) 69,16 persen (CtC).

Berdasarkan negara asal, impor nonmigas Indonesia pada Januari-Juli didominasi Tiongkok, Jepang, dan Amerika Serikat (AS) dengan kontribusi gabungan mencapai 52,65 persen terhadap total impor nonmigas.

Sementara itu, negara asal impor dengan kenaikan tertinggi adalah Ekuador dengan 135,25 persen, Uni Emirat Arab 79,10 persen, dan Kanada 33,43 persen.

Khusus periode Juli, kinerja impor Indonesia tercatat sebesar USD 20,58 miliar.

Nilai ini naik 6,43 persen dibanding Juni 2025 (MoM), tetapi menurun 5,86 persen dibanding Juli 2024 (YoY).

“Nilai impor Juli terdiri atas sektor migas sebesar USD 2,51 miliar dan nonmigas sebesar USD 18,06 miliar,” pungkas Busan. (ara/opi)

 

Editor : Nofilawati Anisa
#mobil listrik #budi santoso #radar surabaya #CPU #ekspor #Busan #menteri perdagangan #ponsel pintar #impor #kakao #kemendag