Industri & Perdagangan Infrastruktur Otomotif Perbankan & Keuangan Person of The Year Properti Transportasi & Logistik Wisata & Kuliner

Banyak Produsen Tertarik Investasi Mobil Listrik di Indonesia, Siapa Saja?

Nurista Purnamasari • Jumat, 16 Februari 2024 | 14:05 WIB
Potensi pasar mobil listrik yang cukup besar menjadi slah satu pertimbangan produsen membuka pabrik di Indonesia.
Potensi pasar mobil listrik yang cukup besar menjadi slah satu pertimbangan produsen membuka pabrik di Indonesia.

JAKARTA – Industri mobil listrik kini memang tengah menjadi buah bibir sekaligus jadi peluang yang menjanjikan.

Baik dari segi pasar maupun potensinya untuk menarik investor menjadikan banyak negara mencoba menggaet produsen untuk membangun pabrik di negaranya.

Di tengah persaingan yang ketat dalam industri mobil listrik, Indonesia masih menjadi tempat yang menarik untuk berinvestasi di sektor ini.

Industri otomotif nasional akan semakin diramaikan oleh produsen-produsen mobil listrik yang hendak berinvestasi di Tanah Air.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, sudah ada beberapa produsen yang telah membangun pabrik mobil listrik di Indonesia, seperti Hyundai, Wuling, Sokonindo Automobile, hingga MG Motor Indonesia.

Produsen mobil listrik lainnya juga bakal merealisasikan investasi di Indonesia, salah satunya adalah Chery. Chery akan memulai produksi mobil listrik Chery Omoda E5 di pabrik PT Handal Indonesia Motor yang berlokasi di Bekasi awal tahun ini.

"Ada juga BYD dan Vinfast yang mau masuk ke Indonesia," ujar Airlangga usai pembukaan Indonesia International Motor Show (IIMS) 2024 di Jakarta, Kamis (15/2).

BYD telah memperkenalkan tiga model mobil listriknya di Indonesia pada Januari lalu, yaitu Atto 3, Seal, dan Dolphin.

Mereka juga digadang-gadang akan mendirikan pabrik mobil listrik di Indonesia dalam waktu dekat.

Adapun Vinfast sempat disebut akan menanamkan investasi senilai USD 1,2 miliar di Indonesia secara jangka panjang.

Investasi tersebut termasuk untuk membangun pabrik mobil listrik sebesar USD 200 juta pada 2024.

Airlangga menuturkan, pemerintah juga melihat peluang pabrikan asal Eropa yang tertarik berinvestasi mobil listrik di Indonesia, seperti BMW dan Renault.

Hanya saja, belum ada keterangan lebih lanjut terkait besaran investasi dan realisasi ekspansi di sektor mobil listrik dari kedua merek tersebut. 

"Negara Eropa tentu kami lihat, karena yang lewat CKD (Completely Knock Down) salah satunya BMW," tuturnya.

Disisi lain, pemerintah kini sedang mengurus perpanjangan insentif pemotongan PPN DTP mobil listrik dari 11 persen menjadi 1 persen untuk memantik permintaan terhadap produk tersebut.

Insentif ini diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 38 Tahun 2023, namun masa berlakunya habis 31 Desember 2023.

"Sekarang lagi diproses PMK-nya. Insyaallah bulan ini bisa dikejar, karena Pemilu sudah selesai," jelasnya.

Airlangga menambahkan, penjualan mobil di Indonesia pada 2023 lalu menurun.

Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) dari sisi retail (dealer ke konsumen) penjualan mobil tahun lalu sebesar 998.059 unit.

Sementara, ekspor mobil nasional secara utuh atau completely built up (CBU) disebut Airlangga cukup moncer mencapai lebih dari 500 ribu unit pada 2023. "Kami harapkan tahun ini bisa kembali ke 1 juta unit," imbuhnya. (knt/nur)

Editor : Nurista Purnamasari
#mobil listrik #industri otomotif #investasi