radarsurabayabisnis.id - Kualitas udara di Surabaya menjadi sorotan di tengah cuaca panas yang belakangan melanda. Data pemantauan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Surabaya menunjukkan konsentrasi polutan PM2.5 di Stasiun Pemantauan Kualitas Udara Ambien (SPKUA) Tandes sempat masuk kategori tidak sehat pada pagi hari.
Berdasarkan data pada 15 Oktober 2026, kondisi tersebut terpantau terutama pada pukul 06.00–09.00 WIB. Temuan ini menjadi perhatian karena paparan partikel halus PM2.5 dapat berdampak terhadap kesehatan, terutama bagi kelompok rentan.
Pakar Teknik Lingkungan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Arie Dipareza Syafei, menilai kondisi tersebut menunjukkan adanya episode pencemaran udara yang perlu mendapat perhatian serius.
Baca Juga: Jamin Daging Halal, Pemkot Surabaya Kebut Penataan RPU Pasar Wonokromo dan Babaan
“Hal ini menunjukkan adanya episode pencemaran yang perlu ditanggapi secara serius,” ujar Arie, Senin (19/10).
Cuaca Panas Bukan Penyebab Langsung PM2.5
Arie menjelaskan, kualitas udara dinilai berdasarkan sejumlah parameter polutan, antara lain PM2.5, PM10, ozon, nitrogen dioksida (NO₂), sulfur dioksida (SO₂), dan karbon monoksida (CO). Hasil pengukuran tersebut kemudian dikonversi menjadi Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU).
Mengacu pada Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2021, baku mutu PM2.5 ditetapkan sebesar 55 mikrogram per meter kubik (µg/m³) untuk rata-rata 24 jam dan 15 µg/m³ untuk rata-rata tahunan. Adapun baku mutu PM10 sebesar 75 µg/m³ untuk rata-rata 24 jam dan 40 µg/m³ untuk rata-rata tahunan.
Baca Juga: Dapat Modal Rp 19,8 Juta dari Pemkot Surabaya, GenZ Ini Baru Rintis Usaha Omzet Sudah Jutaan
Meski demikian, Arie mengingatkan bahwa terpenuhinya baku mutu tidak serta-merta berarti udara sepenuhnya bebas dari risiko kesehatan.
Menurut dia, cuaca panas bukan sumber langsung PM2.5. Penurunan kualitas udara lebih berkaitan dengan sumber emisi, seperti kendaraan bermotor, aktivitas industri, pembakaran terbuka, serta debu dari area terbuka.
“Cuaca panas bukan merupakan sumber langsung munculnya PM2.5, melainkan kondisi yang dapat memengaruhi dinamika polutan di udara. Intensitas sinar matahari yang tinggi dapat meningkatkan pembentukan ozon, sedangkan pemanasan permukaan turut memengaruhi proses pencampuran udara,” jelasnya.
Mengapa Udara Memburuk pada Pagi Hari?
Arie menerangkan, polutan cenderung terperangkap di dekat permukaan tanah pada pagi hari karena lapisan udara relatif dangkal. Kondisi tersebut dapat diperburuk oleh meningkatnya emisi kendaraan bermotor saat jam sibuk.
Kombinasi kondisi atmosfer dan aktivitas manusia itu membuat kualitas udara berpotensi memburuk pada waktu tertentu, termasuk saat masyarakat mulai berangkat bekerja maupun bersekolah.
Karena itu, pengendalian pencemaran tidak cukup hanya mengandalkan pemantauan kualitas udara. Sumber emisi juga perlu dikurangi agar konsentrasi polutan tidak terus meningkat.
PM2.5 Berisiko bagi Jantung dan Paru-Paru
Paparan pencemaran udara dalam jangka pendek dapat memicu iritasi, batuk, sesak napas, hingga memperburuk kondisi penderita asma. Sementara itu, paparan dalam jangka panjang dapat meningkatkan risiko penyakit jantung, stroke, dan gangguan paru-paru.
Risiko tersebut perlu menjadi perhatian di tengah cuaca panas yang juga meningkatkan kemungkinan dehidrasi.
Arie mengimbau kelompok rentan, seperti anak-anak, lansia, serta penderita penyakit jantung dan paru-paru, agar lebih berhati-hati ketika beraktivitas di luar ruangan.
Masyarakat juga disarankan memantau informasi kualitas udara sebelum beraktivitas dan mengurangi paparan ketika kondisi udara memburuk.
Pakar ITS Minta Emisi Dikendalikan Bersama
Arie menegaskan, penanganan pencemaran udara membutuhkan kerja sama pemerintah dan masyarakat. Pemerintah perlu memperkuat sistem peringatan dini, menindak pembakaran terbuka, serta memeriksa sumber emisi yang tinggi.
Di sisi lain, masyarakat diminta menghentikan kebiasaan membakar sampah dan ikut mengurangi sumber pencemaran di lingkungan masing-masing.
“Kita perlu bersama-sama mereduksi emisi,” pungkasnya.
Editor : Hany AkasahSumber : Radar Surabaya